Mengoptimalkan Minat, Bakat, dan Potensi pada ABK melalui Kreativitas

Selama ini, Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Padahal setiap orang memiliki potensi yang diberikan oleh Allah SWT. Selain itu, orang tua dari ABK belum tahu secara tepat dalam membersamai anaknya. Oleh karena itu, Yayasan Peduli Kasih menyelenggarakan kegiatan workshop kreativitas untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa dengan kreativitas dari orang tua dan orang dewasa, potensi, bakat, dan minat ABK dapat dioptimalkan.

Acara yang berjudul Workshop Kreativitas untuk Mengoptimalkan Bakat dan Minat ABK diadakan di Ruang Kuliah Anatomi Fakultas Kedokteran UNAIR pada hari Minggu, 15 Maret 2020. Di luar ruangan, tampak hasil karya ABK berupa galeri fotografi (hasil kerjasama dengan LPK) yang dipamerkan dan dapat dinikmati oleh peserta workshop. Foto yang dipamerkan juga dapat dibeli seharga 5000 rupiah untuk dipajang di rumah. Profit penjualan akan disalurkan langsung kepada ABK yang menciptakan karya yang bersangkutan.

Ketua yayasan, Dr. Sawitri Retno Hadiati, dr., MQHC juga turut hadir dan memberikan sambutan di awal acara. Beliau memberikan gambaran umum tentang Yayasan Peduli Kasih ABK, “Yayasan ini didirikan sejak tahun 2012 berdasarkan pengalaman pribadi, tidak berbayar (gratis), dengan harapan dapat dijadikan sebagai wadah bagi sesama orang tua beserta ABK agar bisa bertemu dengan pejuang sesamanya. Saat ini sudah ada tiga cabang yayasan (Surabaya, Sidoarjo, dan Mojokerto) yang biasanya digunakan untuk berkegiatan, misalnya pelatihan fotografi, menyanyi, menari, dan lainnya” tuturnya.

Penyerahan Beasiswa Istimewa Oleh Dr. Sawitri Retno Hadiati, dr., MQHC

Lebih lanjut, beliau juga memberikan beasiswa istimewa (sekarang disebut beasiswa kreativitas) kepada dua ABK terpilih berdasarkan hasil seleksi, komitmen, dan kerjasama orangtua. Dua ABK terpilih tersebut diantaranya M. Alif Wahyu dan Ryan Dwi.

“Beasiswa yang diberikan bukan berupa uang, tapi berupa fasilitas, tahun lalu senilai 250 ribu, sekarang senilai 500 ribu” tegasnya. Selain sambutan dari ketua yayasan, Dekan Fakultas Kedokteran UNAIR, Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U(K) juga turut memberikan sambutan terkait potensi ABK yang harus dioptimalkan untuk menciptakan generasi ABK yang mandiri dan mampu secara finansial. Beliau juga mengapresiasi hasil karya foto ABK yang ada di galeri fotografi.

Workshop Kreativitas yang berdurasi selama 8 jam itu dihadiri oleh 247 peserta, mulai dari terapis, guru sekolah, akademisi, maupun pemerhati ABK. Tidak mau kalah, anak ABK juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Misalnya melalui kegiatan menyanyi bersama orangtua dan anak (ABK) (Gambar 3). Salah satu lagu yang dibawakan selama menyanyi adalah lagu yang berjudul “Hanya Rindu”. Tentu saja suasana bangga dan haru dapat disaksikan selama kegiatan menyanyi bersama berlangsung.

Workshop Kreativitas Anak Berkebutuhan Khusus

Tidak hanya itu, ada tiga materi utama yang disampaikan selama workshop kreativitas berlangsung. Dimulai dari materi yang disampaikan oleh Bapak Roby Susanto, S.Psi., M.Psi, seorang psikolog, konselor, sekaligus hypnotherapis. Materi tersebut berkaitan dengan cara menggali dan mengarahkan bakat dan minat ABK. Kemudian, dilanjutkan dengan sosialisasi tentang deteksi dini gangguan THT oleh Dr. Nyilo Purnami, dr., Sp.T.H.T.K.L(K) dan rekannya. Acara selanjutnya adalah  ISHOMA dan coffee break.

Di penghujung acara, peserta workshop kreativitas mendapatkan materi dari seorang Okupasi terapis Rs. Haji, Fajar Suryani, STr.Kes tentang cara meningkatkan fokus dan konsentrasi ABK. Materi ini juga mencakup tentang peran orangtua,  ABK harusnya tidak hanya dibuat senang saja, tapi minatnya juga harus digali lebih lanjut dan diarahkan, itulah poin utama yang harus dicari dalam rangka mempersiapkan ABK untuk mandiri secara finansial.

Materi Fotografi yang disampaikan oleh Bapak Dody S. Mawardi

Acara ditutup dengan talkshow yang disampaikan oleh Instruktur Fotografi LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) Peduli Kasih ABK, Bapak Dody S. Mawardi yang menyampaikan bahwa aktivitas fotografi itu dapat digunakan sebagai terapi visual dan kognisi dari ABK. Kegiatan fotografi sekarang bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, bukan barang mewah. Nah sekali lagi, disinilah peran utama orang tua ABK dibutuhkan agar potensi, bakat, dan minat yang dimiliki ABK dapat berkembang secara optimal

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top
%d blogger menyukai ini: