Sebagai manusia yang hidup di tengah-tengah manusia lainnya, kita tentu sudah memiliki gambaran bagaimana seharusnya manusia normal. Sebagaimana yang diajarkan pada biologi dalam kelas, manusia adalah makhluk hidup dengan dua tangan, dua kaki, dua mata, dua telinga, dan memiliki akal budi serta kepintaran yang membedakan manusia dari binatang. Gambaran-gambaran ini sudah ada dalam otak kita sejak kecil sehingga ketika melihat manusia dengan satu tangan atau satu kaki atau bahkan ketika melihat manusia dengan bentuk kecerdasan yang berbeda, kita akan dengan cepat mengategorikan manusia tersebut sebagai tidak normal.

Dalam dunia internasional, orang-orang dengan perbedaan fungsi fisik maupun mental ini biasa disebut dengan disabled people atau penyandang disabilitas. Akan tetapi, sejak akhir tahun 1990-an, kata ini menarik banyak perhatian karena maknanya yang cenderung kasar. Disabilitas merupakan kata yang digunakan untuk menyebut kecacatan atau ketidakmampuan. Padahal, penyandang disabilitas dapat berfungsi dengan baik dalam masyarakat dengan bantuan dan perawatan yang tepat. Karena itu, kini penamaan orang-orang dengan perbedaan fungsi fisik maupun mental bergeser dari dis-ability (ketidakmampuan), menjadi different-ability (orang dengan kemampuan yang berbeda). Kata ini kemudian diserap dalam bahasa Indonesia menjadi difabel.

Lima belas persen dari keseluruhan penduduk dunia adalah difabel (Data World Health Organization, 2011). Di Indonesia sendiri, 12,15% dari total penduduk adalah difabel (Data CNN, 2016), sementara 1,6 juta diantaranya merupakan anak-anak (Data Badan Pusat Statistik, 2016). Anak-anak difabel ini biasa dikenal dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Berikut ini adalah beberapa jenis kondisi ABK yang sering ditemui di Indonesia:

 

1. Tunanetra
Tunanetra atau gangguan penglihatan adalah kondisi di mana anak tidak dapat melihat, baik sebagian (low-vision) maupun total. Anak dengan gangguan penglihatan yang terdata di Sekolah Luar Biasa (SLB) di seluruh Indonesia saja mencapai 3.500 orang.

 

2. Tunarungu
Tunarungu atau gangguan pendengaran adalah kondisi gangguan pada pendengaran baik sebagian atau menyeluruh. Hal ini biasa diikuti dengan keterbatasan kemampuan berbicara. Terdapat lebih dari 23.000 penyandang tunarungu yang mendapat pendidikan melalui SLB di Indonesia.

 

3. Tunawicara
Tunawicara adalah anak dengan gangguan kemampuan bicara. Anak dengan gangguan pendengaran biasanya akan mengalami gangguan kemampuan bicara pula. Namun, hal ini tidak berlaku sebaliknya. Tidak semua anak dengan gangguan kemampuan bicara merupakan tunarungu. (Baca penjelasan lebih lanjutnya di artikel yang akan datang)

 

4. Tunadaksa
Tunadaksa adalah difabel fisik berupa gangguan gerak akibat kelumpuhan, tidak lengkap anggota badan, atau kelainan bentuk dan fungsi tubuh. Tunadaksa dapat terjadi sebagai dampak dari gangguan syaraf pada otak.

 

5. Tunagrahita
Tunagrahita  adalah gangguan mental di mana kondisi mental anak berbeda dengan perkembangan mental anak-anak seusianya. Hal ini biasa diikuti dengan ketidakmampuan anak dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial. Sebanyak 64.000 anak di Indonesia adalah penyandang tunagrahita dan mendapat pendidikan melalui SLB, menandai tunagrahita sebagai kondisi Anak Berkebutuhan Khusus yang paling banyak terjadi di Indonesia.

 

6. Down Syndrome
Sindroma down (down syndrome) atau kembar sedunia adalah gangguan yang terjadi saat anak mengalami abnormalitas perkembangan kromosom. Sindroma down dapat dikenali melalui bentuk fisik penyandangnya yang khas: mata yang miring ke atas, hidung lebar, leher tebal, wajah datar, jari-jari yang pendek, dan otot yang cenderung lemah.

 

7. Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas
Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) atau Attention Deficit and Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah kondisi anak dengan gangguan perkembangan, ditandai dengan gangguan pengendalian diri, masalah dengan atensi dan perhatian, serta hiperaktivitas dan impulsivitas. Hal ini biasanya menyebabkan kesulitan berperilaku, berpikir, dan pengendalian emosi dalam diri anak.

 

8. Anak dengan gangguan Spektrum Autisma (ASD)
Gangguan Spektrum Autisma atau Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah sekelompok kondisi gangguan perkembangan yang melibatkan serangkaian spektrum dengan berbagai macam gejala, kemampuan, dan berbagai level keterbatasan. Umumnya, anak dengan gangguan spektrum autisma sama-sama memiliki gangguan komunikasi, interaksi sosial, dan melakukan gerakan yang berulang-ulang dari derajat ringan hingga berat.

 

9. Anak dengan Kesulitan Belajar Khusus
Anak dengan kesulitan belajar khusus memiliki hambatan atau penyimpangan pada proses pengolahan informasi pada otak sehingga dapat menyebabkan anak mengalami ketidakmampuan membaca (disleksia), menulis (disgrafia), atau menghitung (diskalkulia).

 

Kekhususan yang dimiliki oleh anak-anak seharusnya tidak menjadi batasan bagi mereka untuk mengembangkan bakat dan potensi. Karena itu, memperhatikan perkembangan dan pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus menjadi urusan yang penting, terutama bagi orang tua. Di Indonesia, lebih dari satu juta ABK tidak mengenyam pendidikan di sekolah (Data Badan Pusat Statistik, 2016). Hal ini semakin mengukuhkan peran penting orang tua untuk membantu ABK mengembangkan potensi ABK tanpa dibatasi oleh kekhususan yang dimiliki anak. Salah satu langkah pertama yang dapat dilakukan oleh orang tua ABK adalah identifikasi kekhususan dan kebutuhan anak. Dengan memahami kondisi anak, orang tua dapat memberikan perawatan yang tepat dan menjadi jembatan bagi ABK untuk mengoptimalkan potensi diri.

***

 

Penulis                 : Habiibati Bestari
Editor                    : Alwiyah Maulidiyah
Reviewer             : Dr. Sawitri Retno Hadiati, dr., MQHC

 

 

Sumber:

Heru. (2007, November 16). Tunagrahita di Indonesia Capai 6,6 Juta Orang . Diambil kembali dari Antara News: http://www.antaranews.com/berita/83721/tunagrahita-di-indonesia-capai-66-juta-orang

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2016). Profil Pembinaan dan Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tahun 2016. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RepublikIndonesia. (2017). Panduan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus Bagi Pendamping. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

National Down Syndrome Society. (t.thn.). What Is Down Syndrome. Diambil kembali dari National Down Syndrome Society: http://www.ndss.org/Down-Syndrome/What-Is-Down-Syndrome/

NIMH. (2016, Oktober). Autism Spectrum Disorder. Diambil kembali dari National Institute of Mental Health: https://www.nimh.nih.gov/health/topics/autism-spectrum-disorders-asd/index.shtml

Olyvia, F. (2017, Agustus 29). Satu Juta Anak Berkebutuhan Khusus Tak Bisa Sekolah. Diambil kembali dari CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170829083026-20-237997/satu-juta-anak-berkebutuhan-khusus-tak-bisa-sekolah/

Stern, K. A. (t.thn.). Definition of Crebral Palsy. Diambil kembali dari My Child At Cerebral Palsy: http://www.cerebralpalsy.org/about-cerebral-palsy/definition

Stumbo, E. (2013, Oktober). A closer look at the physical characteristics of Down syndrome. Diambil kembali dari Ellen Stumbo: http://www.ellenstumbo.com/closer-look-physical-characteristics-down-syndrome/

Susilawati, D., & Aminah, A. N. (2016, Desember 16). Indonesia Miliki 12 Persen Penyandang Disabilitas. Diambil kembali dari Republika: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/12/16/oi9ruf384-indonesia-miliki-12-persen-penyandang-disabilitas

World Bank. (2017, September 20). Disability Inclusion. Diambil kembali dari World Bank: http://www.worldbank.org/en/topic/disability

World Health Organization. (2011). World Report On Disability. Diambil kembali dari World Health Organization: http://www.who.int/disabilities/world_report/2011/report/en/


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: