Keterbatasan penglihatan membuat penyandang tunanetra terhambat menerima informasi dalam bentuk visual, termasuk dalam bentuk tulisan. Hal ini membuat penyandang tunanetra mengoptimalkan kepekaan indra lain seperti pendengaran, penciuman, dan perabaan. Karena itu, bagi tunanetra, informasi yang sebelumnya dalam bentuk visual harus diubah menjadi bentuk lain seperti bunyi-bunyian, bau-bauan, atau sentuhan untuk memudahkan penyandang tunanetra menerima informasi.

Huruf braille merupakan huruf dengan sistem tulisan sentuh yang digunakan oleh penyandang tunanetra untuk membaca dan menulis. Sistem ini pertama kali digunakan di L’Institution Nationale des Jeunes Aveugles, Paris, dalam rangka mengajar siswa-siswa tunanetra. Munculnya sistem ini bagaikan angin segar yang memberikan akses bagi penyandang tunanetra untuk mendapatkan informasi dalam bentuk tulisan sekaligus memudahkan proses pembelajaran. Uniknya, sistem sentuh huruf braille ini diciptakan oleh seorang tunanetra asal Perancis, Louis Braille.

 

Louis Braille (1809-1852), pencipta huruf braille. sumber gambar

Louis Braille lahir dalam kondisi normal pada tahun 1809. Kemudian kecelakaan pada ruang kerja sang ayah, mengakibatkan mata Louis Braille tertusuk benda tajam dan membuatnya menjadi buta permanen pada usia tiga tahun. Saat ini tanggal kelahiran Louise Braille, 4 Januari, diperingati sebagai hari Braille di seluruh dunia.

Munculnya inspirasi untuk menciptakan sistem baca-tulis ini berawal dari seorang mantan perwira artileri Napoleon, Kapten Charles Barbier. Kapten Barbier menggunakan sandi berupa garis-garis dan titik-titik timbul untuk memberikan pesan ataupun perintah kepada serdadunya dalam kondisi gelap malam. Pesan tersebut dibaca dengan cara meraba rangkaian kombinasi garis dan titik yang tersusun menjadi sebuah kalimat. Sistem demikian kemudian dikenal dengan sebutan night writing.

Louis Braille kemudian mengadakan uji coba garis dan titik timbul Barbier kepada beberapa kawan tunanetra untuk menyesuaikan kebutuhan para tunanetra. Dari hasil uji coba tersebut, ternyata jari-jari tangan mereka lebih peka terhadap titik dibandingkan garis, sehingga pada akhirnya huruf-huruf Braille hanya menggunakan kombinasi antara titik dan ruang kosong atau spasi.

Huruf-huruf Braille menggunakan kerangka penulisan seperti kartu domino. Satuan dasar dari sistem tulisan ini disebut sel Braille, di mana tiap sel terdiri dari enam titik timbul; tiga baris dengan dua titik pada masing-masing baris. Keenam titik tersebut dapat disusun sedemikian rupa hingga menciptakan 64 macam kombinasi. Huruf Braille dibaca dari kiri ke kanan dan dapat melambangkan abjad, tanda baca, angka, tanda musik, simbol matematika dan lainnya. Ukuran huruf Braille yang umum digunakan adalah dengan tinggi sepanjang 0.5 mm, serta spasi horizontal dan vertikal antar titik dalam sel sebesar 2.5 mm.

Satu Sel Braille. Sumber gambar

 

Abjad dalam huruf Braille. Sumber gambar

 

Huruf Braille Saat Ini

Seiring perkembangan dan kemajuan teknologi, sistem braille banyak diadaptasi untuk memberikan kesempatan dan kemudahan kepada para penyandang tuna netra untuk menikmati kecanggihan teknologi. Berikut ini adalah beberapa perangkat yang mengadopsi huruf braille:

 

  • Braille Electronic imaging

Alat ini dkembangkan oleh U.S National Institute for Standards and Technology (NIST) di Amerika Serikat. Alat ini memiliki lebih dari 3000 poin penghubung untuk membuat gambar secara penuh. Alat ini mentransfer gambar secara elektronik menjadi berbentuk gambar timbul.

 

  • B-Touch Braille Mobile Phone

Ponsel ini dirancang bagi tunanetra dengan fleksibilitas yang sama seperti iPhone. Ponsel pintar ini menyediakan layar sentuh dengan interface (alat penghubung) yang dilengkapi dengan huruf Braille dan memungkinkan tunanetra untuk menavigasi fitur telepon termasuk pengenalan suara sistem navigasi yang sederhana, serta scanner yang membaca teks dari halaman.

 

  • Braille Smartwatch

Penyandang tunanetra saat ini dapat menikmati mode sekaligus teknologi seperti smartwatch atau jam tangan pintar. Sebuah startup yang berasal dari Korea Selatan menciptkan smartwatch bagi tunanetra yang diberi nama Dot.

  • ORCAM

Alat ini berbentuk kacamata yang dilengkapi dengan sensor untuk mengenali objek dan juga dilengkapi dengan earphone. Alat ini mengenali objek, kemudian direkam dan disimpan dan memberitahukan kepada tunanetra melalui suara. Misal ketika kacamata ini mengarah kepada objek orang yang dikenali, maka akan memberitahukan nama orang tersebut.

 

  • Braille EDGE 40

merupakan sebuah perangkat yang dapat dihubungkan ke berbagai komputer ataupun via Bluetooth. Dengan perangkat ini, tunanetra dapat membaca huruf braille dari iPad, Android tablet, Mac,Windows laptop, komputer pribadi, hingga smartphone.

 

***

 

Penulis                 : Farid Afandi
Farid Afandi merupakan mahasiswa semester akhir di Jurusan Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya). Menulis menjadi hobi yang ia tekuni dengan tujuan untuk membantu sesama. Saat ini Farid tengah menjadi relawan di Yayasan Peduli Kasih Anak Berkebutuhan Khusus

Editor                    : Habiibati Bestari

 

 

Sumber

Ardi, M. (t.thn.). Apa Itu Huruf Braille dan Perangkat Teknologi bagi Tunanetra. Diambil kembali dari Serba Definisi: https://bfl-definisi.blogspot.co.id/2017/01/apa-itu-huruf-braille-teknologi-sistem-braille.html

Beranda. (t.thn.). Mengenal Huruf Braille. Diambil kembali dari Beranda: http://www.beranda.com/mengenal-huruf-braille/

mikirbae. (2015, September). Mengonversi Teks Sejarah Huruf Braille. Diambil kembali dari mikirbae: http://www.mikirbae.com/2015/09/mengonversi-teks-cerita-sejarah-huruf.html

sainsme. (2013, November). Sejarah Huruf Braille. Diambil kembali dari sainsme: https://sains.me/2013/11/01/sejarah-huruf-braille/

 

Sumber gambar feature

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: