Kamu pasti pernah mendengar tentang Monalisa. Sebuah lukisan perempuan yang tersenyum dan ketenarannya sudah melegenda. Tapi, tahukah kamu bahwa Leonardo Da vinci, pelukisnya, adalah difabel disleksia? Apa sih disleksia itu?

Disleksia adalah kondisi di mana terjadi gangguan pada otak yang menyebabkan seseorang kesulitan untuk merangkai huruf, kata, angka, arah, dan susunan-susunan lainnya. Orang dengan gangguan disleksia umumnya dikenal karena kesulitan dalam memproses kata sehingga sering dianggap tidak bisa membaca. Disleksia bukanlah gangguan yang mempengaruhi kecerdasan. Anak dengan gangguan disleksia dapat belajar bersama teman-teman seusianya meskipun dengan cara yang sedikit berbeda.

Disleksia sendiri bukanlah hal baru. Gangguan ini telah ditemukan sejak tahun 1896. Seorang neurolog Inggris, McDonald Critchley, menyatakan bahwa disleksia adalah gangguan belajar yang paling sering ditemukan. Di Indonesia, anak dengan gangguan disleksia cukup banyak ditemui. Sekitar 10% dari jumlah penduduk Indonesia adalah difabel disleksia (Jawa Pos, 2016). Hal ini berarti terdapat 2-3 orang siswa dengan gangguan disleksia dalam kelas yang berisi 25 orang.

Secara fisik, anak dengan gangguan disleksia tidak berbeda dengan anak lainnya. Perkembangan mental anak dengan gangguan disleksia pun sama dengan anak-anak seusianya. Lantas, bagaimana mendeteksi disleksia pada anak?

Gejala disleksia dapat berbeda pada setiap orang, dan dapat dikenali sesuai usia penyandangnya:

  1. Gejala pada balita
    • Anak cenderung terlambat berbicara
    • Anak sering tertukar-tukar mengucapkan kata-kata yang mirip. Seperti “tiup” dengan “tipu”
    • Kesulitan mempelajari kata baru dan menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari
    • Kesulitan mengingat urutan hari, atau lirik lagu. Mengalami kesulitan menceritakan sesuatu dengan urutan kejadian
  1. Gejala pada anak usia sekolah
    • Anak mengalami kesulitan mengingat alfabet dan bagaimana bunyi huruf-huruf
    • Cenderung mengalami kebingungan mengenali huruf dengan bentuk yang mirip. Seperti “p” dengan “q” atau “b” dengan “d”
    • Mengalami kebingungan mengenali huruf dengan bunyi yang hampir sama, seperti “d” dengan “t” atau “f” dengan “v”
    • Menghindari membaca, tapi dapat mencerna infomasi secara verbal dengan sangat baik
    • Kesulitan mengeja
    • Sering mengulangi kesalahan yang sama dalam membaca, meskipun kata yang dibaca merupakan kata yang sudah dikenal, seperti “saya” atau “di sana”
    • Kecepatan membaca dan menulis sangat rendah
    • Kemampuan memahami bacaan rendah
    • Memiliki tulisan yang cenderung buruk
  1. Gejala pada remaja dan dewasa muda
    • Membaca dengan perlahan dan sering melewati kata yang panjang
    • Sering melakukan kesalahan dalam mengeja
    • Kesulitan untuk merencanakan dan mengorganisasi hal-hal
    • Kesulitan untuk mengekspresikan ide dan menyusun argumen
    • Memiliki kesulitan dalam memahami candaan atau permainan kata
    • Menghindari tugas membaca dan menulis
    • Tidak mengindahkan tanda baca ketika menulis
    • Kesulitan mengingat PIN atau nomor telepon

 

Orang tua merupakan keberadaan yang penting bagi kehidupan anak. Bagaimana anak memilih dan menjalani hidup, sangat dipengaruhi oleh tindakan-tindakan dan pilihan orang tua. Sementara itu, bagi orang tua, menemukan kebutuhan belajar khusus pada anak bisa jadi merupakan sebuah kejutan tersendiri. Akan tetapi, panik dan memaksa anak untuk belajar dengan cara yang sama seperti anak-anak lain bukanlah solusi ideal. Berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk membantu anak disleksia:

 

1. Bicarakan Hal Ini dengan Anak
Membicarakan mengenai kebutuhan khusus anak merupakan hal yang penting. Ajarkan pula pada anak untuk memahami kondisinya agar anak dapat menolong dirinya sendiri. Anak perlu untuk dibimbing dan diedukasi bahwa kebutuhan belajarnya akan berbeda dengan teman-teman seusianya dan itu bukanlah hal yang patut untuk ditangisi. Mempelajari mengenai disleksia lebih jauh bersama-sama dengan anak merupakan cara yang tepat agar membuat anak mengerti kebutuhannya sendiri sekaligus meningkatkan kepercayaan diri sang anak.

 

2. Temukan Potensi Anak
Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, termasuk anak-anak disleksia. Alih-alih terfokus pada kondisi disleksia anak, orang tua lebih baik fokus pada potensi yang dimiliki oleh anak dan bantu anak untuk mengembangkannya. Meskipun kesulitan belajar anak memang menjadi tantang tersendiri, orang tua perlu menemukan potensi anak dan mengoptimalkannya akan membantu anak menjadi lebih percaya diri akan kemampuannya.

 

3. Berkonsultasi dengan Guru di Sekolah
Komunikasi yang baik antara guru dan orang tua adalah hal mutlak untuk mengakomodasi kebutuhan belajar khusus anak. Berkonsultasi dengan guru dan merumuskan strategi belajar yang terbaik bagi anak agar tidak ketinggalan dengan teman-teman seusianya merupakan tindakan yang membutuhkan kerja sama antara guru—yang membimbing anak belajar di sekolah—dan orang tua, yang akan membimbing anak saat di rumah.

 

4. Kenalkan Anak dengan Semua Bentuk Membaca
Kenalkan anak dengan segala jenis bacaan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada bacaan. Mulai dari komik, majalah, koran, novel, hingga tabloid, kenalkan berbagai jenis bacaan dan ajarkan anak untuk memilih sendiri material yang ingin mereka baca agar anak menikmati bacaan tanpa adanya paksaan. Karena anak disleksia lebih mudah belajar melalui audio dan spasial, kenalkan juga anak pada buku-audio dan dampingi anak saat membaca beriringan dengan buku-audio.

 

5. Bantu dan Temani Anak Belajar
Bantu anak untuk menerapkan strategi belajar yang telah dirancang bersama guru. Bantu anak dengan membaca keras-keras agar anak dapat bersenang-senang saat membaca. Kenalkan anak pada situs atau alat untuk membantu belajar anak agar anak dapat mengatasi kebutuhan belajarnya.

 

6. Puji Setiap Pencapaian Anak
Jangan pernah lupa untuk memberikan apresiasi kepada anak untuk setiap pencapaian yang berhasil diraih, sekecil apapun itu. Menjadi berbeda dapat membuat anak merasa terkucilkan. Pastikan kesehatan mental anak tetap terjaga dengan meyakinkan bahwa anak memiliki potensi yang besar dan memberikan apresiasi yang pantas pada setiap keberhasilan anak.

 

7. Bergabung dengan Komunitas Orang Tua Disleksia
Salah satu tugas orang tua adalah menjaga kesehatan mental anak sekaligus membantu anak memahami kondisinya. Akan tetapi, orang tua juga membutuhkan dukungan agar dapat terus berpikir positif sekaligus memahami kondisi anak secara menyeluruh. Bergabung dengan komunitas orang tua disleksia merupakan salah satu langkah untuk menemukan dukungan sosial sekaligus berbagi ilmu dan pengalaman. Komunias-komunitas bagi orang tua disleksia seperti Asosiasi Disleksia Indonesia atau Dyslexia Parents Support Group merupakan dua dari banyak komunitas bagi orang tua disleksia di Indonesia.

 

***

 

Penulis: Habiibati Bestari
Editor: Alwiyah Maulidiyah
Reviewer: Dr. Sawitri Retno Hadiati, dr. MQHC

 

 

Sumber:

Australian Dyslexia Association. (2017). What Is Dyslexia. Diambil kembali dari Dyslexia Association: dyslexiaassociation.org.au/how-is-dyslexia-evaluated

Dyslexia Association of Ireland. (t.thn.). How Parents Can Help. Diambil kembali dari Dyslexia Association of Ireland: http://www.dyslexia.ie/information/information-for-parents/how-parents-can-help/

Handriana, E. (2016, April 26). Anak Disleksia Hanya Kehilangan Huruf, bukan Masa Depan. Diambil kembali dari Rappler: https://www.rappler.com/indonesia/130815-anak-disleksia-kehilangan-huruf-bukan-masa-depan

Jawa Pos. (2016, Oktober 30). Anak Disleksia, Jangan Sampai Dicap Bodoh. Diambil kembali dari Pressreader: https://www.pressreader.com/indonesia/jawa-pos/20161030/282235190209528

Jenkins, J. (t.thn.). Ten Things to Help Your Struggling Reader. Diambil kembali dari The Yale Center for Dyslexia and Creativity: http://dyslexia.yale.edu/resources/parents/what-parents-can-do/ten-things-to-help-your-struggling-reader/

Kelly, K. (t.thn.). The Difference Between Dyslexia and Visual Processing Issues. Diambil kembali dari Understood: understood.org/en/learning-attention-issues/child-learning-disabilities/dyslexia/the-difference-between-dyslexia-and-visual-processing-issues

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2016). Profil Pembinaan dan Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tahun 2016. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2017). Panduan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus Bagi Pendamping. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

NHS. (2015, September 15). Dyslexia. Diambil kembali dari NHS Choice: nhs.uk/Conditions/Dyslexia/Pages/Introduction.aspx

NHS. (2015, September 15). Symptoms of Dyslexia. Diambil kembali dari NHS Choice: https://www.nhs.uk/Conditions/Dyslexia/Pages/Symptoms.aspx

The Understood Team. (t.thn.). Signs of Dyslexia at Different Ages. Diambil kembali dari The Understood: https://www.understood.org/en/learning-attention-issues/signs-symptoms/could-your-child-have/checklist-signs-of-dyslexia-at-different-ages

The Understood Team. (t.thn.). Understanding Dyslexia. Diambil kembali dari Understood: understood.org/en/learning-attention-issues/child-learning-disabilities/dyslexia/understanding-dyslexia#item0


1 Comment

Anak Berkebutuhan Khusus: Bukan Tertinggal, Hanya Berbeda – Yayasan Peduli Kasih ABK · 16 November 2017 at 06:36

[…] pengolahan informasi pada otak sehingga dapat menyebabkan anak mengalami ketidakmampuan membaca (disleksia), menulis (disgrafia), atau menghitung […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: