Kisah dan Kesuksesan Komunitas Sahabat Difabel

Komunitas Sahabat Difabel (KSD) Semarang adalah komunitas yang didirikan oleh Noviana Dibyantari untuk mewadahi anak-anak difabel dari berbagai kalangan. Inspirasi didirikannya KSD ini adalah anak dari Bu Novi sendiri yang merupakan difabel intelektual. Mulanya Bu Novi berada di komunitas orang tua dengan ABK atau difabel. Selanjutnya, bersama tiga orang tua yang berada di komunitas tersebut, mereka mulai berdiskusi untuk membentuk KSD ini. 

Selain terinspirasi dari anak sendiri, diberdirikannya KSD juga dilatarbelakangi fenomena banyaknya difabel yang tidak beruntung. Di antaranya ditolak oleh lingkungan maupun orang tua, merasa malu dengan kondisinya, terlalu bergantung pada orang tua, dan ada juga orang tua yang tidak terlalu peduli dengannya. Oleh karena itu, visi misi dari KSD ini adalah “Menciptakan sahabat-sahabat tangguh, mandiri, dan berkarya.” Begitupula dengan anggota KSD yang ingin bergabung, harus memiliki prinsip sama dengan visi misi tersebut.

Banyak hal yang dilakukan oleh KSD dan berguna sebagai inspirasi masyarakat dalam mengembangkan diri para difabel. Tidak sedikit anggota KSD yang telah sukses baik akademik maupun finansial. Di antaranya adalah Naufal Asy Syaddad, yang telah lulus S1 jurusan Matematika di Undip. Aril, yang akan diwisuda menjadi konselor sebaya dan akan menjadi pelatih untuk konselor sebaya untuk teman-temannya. Huda, cerebral palsy yang kini menjadi karyawan di PT KAI. Sunarman Sukamto atau yang akrab dipanggil Pak Maman, difabel dengan kursi rodanya telah dua periode menjadi staf ahli di Kantor Staf Presiden (KSP). 

Selanjutnya ada Ana Okta, cerebral palsy yang kini menjadi admin media sosial KSD. Selain menjadi admin, Ana sangat mahir dalam bidang penulisan kreatif. Ia telah mampu menerbitkan tiga buku dan kini sedang proses buku yang keempat. Tidak berhenti dalam penulisan kreatif, Ana juga sedang menjalani pelatihan fotografi dan publik speaking. Kiprah Ana tersebut menunjukkan bahwa, meskipun cerebral palsy, ia tidak pernah mengeluh dan terus berusaha untuk mendapatkan kemampuan-kemampuan yang diinginkan. 

Selain Ana, pengurus dari KSD juga terdiri dari difabel juga. Ada Menik, sebagai koordinator pendamping anak-anak di rumah difabel dan Irfan yang mengurus penjadwalan kegiatan KSD.

Dalam KSD sendiri, anggota juga difokuskan untuk UMKM. kesuksesan dari bisnis UMKM KSD sering kali mampu dilirik oleh Wali Kota Semarang hingga Gubernur Jawa Tengah. Cara yang mereka lakukan adalah melalui panjat sosial secara positif di media sosial dan mencari berbagai informasi pameran atau semacamnya yang dapat diikuti untuk mengembangkan bisnis serta kemampuan lainnya. (NAF)

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top
%d blogger menyukai ini: