Tiap anak pasti mempunyai satu atau lebih kebisaan yang jika dikembangkan bisa menjadi potensi yang menjanjikan. Tidak terkecuali pada Anak Berkebutuhan Khusus. Meskipun mereka memiliki keterbatasan, pasti ada sebuah kebisaan yang bisa dioptimalkan dan bisa menjadi bekal untuk anak di kemudian hari.

Pengembangan potensi anak tentunya membutuhkan peran aktif dari berbagai pihak, terutama orang tua. Karena orang tua adalah pihak pertama dan terdekat dalam tumbuh kembang anak. Sebelum mulai mengoptimalkan kebisaan anak, orang tua harus mengerti dulu apa yang menjadi kebisaan anaknya. Banyak orang tua yang tidak menyadari kebisaan yang dapat dilakukan oleh anaknya. Orang tua sering menyepelekan kebisaan-kebisaan kecil yang sebenarnya sangat bisa dikembangkan menjadi potensi dan bekal untuk anak jika dilatih dengan serius. Contohnya seperti anak yang aktif bergerak bisa diarahkan ke bidang olahraga seperti lari, renang, dan sebagainya. Jika dilatih secara serius oleh orang tua, kebisaan anak tersebut bisa dioptimalkan agar ia menjadi atlet.

Beberapa upaya dapat dilakukan orang tua dalam mengoptimalkan kebisaan anak. Diantaranya yaitu orang tua sebagai pelatih, manajer dan penanggung jawab.

Orang tua bertugas sebagai manajer anak yang akan memimpin, mengelola, mengarahkan, mengembangkan dan mengawasi setiap kegiatan anak. Termasuk dalam mengarahkan pengoptimalan kebisaan anak. Orang tua harus bisa mengelola kebisaan anak dengan baik agar bisa mencapai hasil yang terbaik untuk masa depan anak.

Orang tua seharusnya menjadi pelatih kebisaan anak saat di rumah. Jika di luar rumah anak sudah mengikuti kursus atau latihan untuk mengasah kebisaannya, di rumah pun kebisaan itu harus tetap dilatih dan dipantau oleh orang tuanya. Orang tua tidak bisa menyerahkan kebisaan anak hanya pada satu pihak saja. Karena pada akhirnya orang tua masih menjadi penanggung jawab anak.

Salah satu orang tua ABK yang berupaya mengoptimalkan kebisaan anaknya yaitu Ibu Rofi’ah. Anaknya, Syirin, adalah penyandang tunanetra. Meskipun Syirintidak bisa melihat, tapi Ibu Rofi’ah menyadari jika sejak kecil bisa menyanyi dan bermain piano. Ibu Rofi’ah membelikan sebuah organ agar bisa memfasilitasi kebisaan anaknya. Dalam waktu 3 bulan ternyata Syirin bisa memainkan tut dengan betul. Akhirnya Ibu Rofi’ah mengarahkan Syirin untuk les. Selain alat musik, Syirin juga mempunyai suara yang merdu. Meskipun saat ini ia belum mengikuti les vokal, namun saat di rumah Ibu Rofi’ah berusaha melatih semampunya. Dengan bantuan internet, Ibu Rofi’ah melatih buah hatinya. Syirin senang menyanyikan lagu-lagu seperti Ben dari Michael Jackson.

Orang tua lainnya juga bisa mulai melatih dan mengoptimalkan kebisaan anaknya seperti Ibu Rofi’ah. Karena dengan bekal ini, anak-anak terutama ABK di masa depan bisa mempunyai potensi yang bisa diunggulkan dan bermanfaat untuknya.

 

Sumber gambar sampul: SheKnows

%d blogger menyukai ini: