Seks Edukasi Untuk ABK, Penting Atau Tidak?

Belum banyak orangtua di Indonesia yang berani memberikan seks edukasi kepada anaknya. Bagi mayoritas masyarakat, seks edukasi dianggap sebagai sebuah topik yang tabu. Selain malu, banyak pula yang merasa bingung harus memulai dari mana.

“Paling-paling sang anak sudah paham.”

“Toh nanti juga ia tahu sendiri.”

“Mungkin sudah diajarkan gurunya di sekolah.”

Kalimat-kalimat tersebut seringkali terdengar. Pada akhirnya, anak dibiarkan mencari tahu sendiri tentang semua itu. Padahal, siapa sangka bahwa membiarkan anak mencari tahu sendiri justru dapat menimbulkan efek yang berbahaya. Mengapa demikian?

Biasanya anak akan menggunakan internet sebagai salah satu sumber informasi yang paling mudah didapat. Akibatnya, informasi yang ia terima justru tidak tersaring dengan baik. Sebagai orangtua hendaknya kita menaruh perhatian lebih akan hal ini. Selain itu, untuk menghindari peristiwa-peristiwa yang tidak diinginkan, penting sekali memberikan seks edukasi pada anak dimulai sejak dini, tidak terkecuali pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Memberikan seks edukasi untuk ABK memang bukan hal yang mudah. Bincang santai yang dilakukan pada Jumat, 8 November 2019 lalu telah membahas poin-poin apa saja yang perlu ditekankan dalam memberikan seks edukasi untuk ABK. “Memang tidak bisa jika hanya disampaikan sekali saja, perlu diulang berkali-kali.” ujar Kak Fadhilah Ramadhani, S.Psi., staf Yayasan Peduli Kasih ABK yang menjadi narasumber kala itu.

Masalah utama dalam pemberian seks edukasi pada ABK adalah masalah sosial dan komunikasi. Biasanya kemampuan sosial ABK tidak dapat berkembang dengan optimal karena ABK seringkali dipisahkan dari berbagai aktivitas yang ada di lingkungan sosialnya. Selain itu, tantangan yang dihadapi dalam memberikan materi kepada ABK adalah ketidakmampuannya untuk berinteraksi secara resiprokal atau 2 arah. Pada dasarnya ABK memang memiliki masalah komunikasi, baik secara verbal maupun nonverbal. ABK juga menunjukan keterbatasan dalam ketertarikannya beraktivitas.

Kak Fadhilah menjelaskan bahwa cara yang paling efektif digunakan adalah dengan menggunakan gambar atau teknik modeling (meniru). Misalnya memberi tahu bagian-bagian tubuh melalui sebuah gambar atau menunjukannya secara langsung. Beritahu juga bahwa perubahan tubuh yang kita alami pada masa remaja adalah hal yang wajar dan tidak perlu ditakuti, apalagi dihindari. Setelah anak paham, barulah kita dapat menjelaskan bagian tubuh mana saja yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain. Terakhir, berikan pemahaman mengenai perbedaan interaksi-interaksi yang wajar dan tidak wajar dilakukan dengan keluarga, teman, maupun orang-orang sekitar.

Menarik banget kan, topik bincang santai pekan ini? Bagi kamu yang berminat ikut bincang santai berikutnya, yuk langsung datang ke Yayasan Peduli Kasih ABK pada Jumat sore!

%d blogger menyukai ini: