Berita tentang kekerasan terhadap anak, mulai dari penindasan (bullying), penganiayaan, pelecehan seksual, pemerkosaan, hingga pembunuhan sering terdengar dalam keseharian kita. Namun, kekerasan yang terjadi pada anak tidak hanya berupa kekerasan fisik dan seksual, tetapi juga kekerasan emosional dalam bentuk pengabaian, diskriminasi, ancaman, hingga eksploitasi. Pelaku kekerasan ini bisa siapa saja, termasuk orang tua, keluarga, tetangga, guru, dan teman sebagai orang terdekat sekalipun.

Kasus kekerasan anak paling banyak terjadi di rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindng anak. Dalam hal ini, budaya berperan penting karena di Indonesia anak masih dianggap sebagai hak milik orang tua dan makhluk yang lemah sehingga pendapat anak kurang didengar oleh orang tua. Selain itu, salah satu faktor terjadinya kekerasan adalah orang tua belum mampu mengendalikan emosinya sendiri. Akibatnya, anak menganggap bahwa kekerasan adalah hal yang biasa karena anak terbiasa mengalami kekerasan dari orang tua sebagai lingkungan terdekatnya. Kekerasan yang didapatkan pada masa anak-anak ini dapat membekas dalam benak anak seumur hidupnya, terlebih lagi apabila anak menginternalisasi kekerasan sebagai salah satu metode berinteraksi dengan orang lain. Hal ini perlu diwaspadai karena anak dengan kondisi demikian dapat menjadi pelaku kekerasan juga.

Kekerasan pada anak ini bukan hanya terjadi pada anak pada umumnya, tetapi juga sering kali terjadi pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Salah satu penyebab kekerasan pada ABK adalah budaya di Indonesia yang belum menghargai dan memahami perbedaan, baik perbedaan secara fisik maupun pemikiran. ABK sering mengalami kekerasan, seperti diskriminasi, pelecehan, penghinaan, atau sesederhana bercanda berlebihan yang bisa menyakitkan hati ABK. Kejadian ini terjadi tidak hanya di rumah saja, tetapi juga di sekolah, lingkungan rumah, dan tempat umum. Adanya kekerasan ini menyebabkan ABK menjadi tidak percaya diri. Untuk mengatasi hal ini, peran orang tua dan lingkungan sekitar dibutuhkan untuk secara aktif melindungi ABK dari kekerasan sekaligus mendukung kepercayaan diri anak.

Lantas, apa saja yang bisa dilakukan oleh orang tua dan lingkungan sekitar untuk memerangi kekerasan anak? Perlu disadari bahwa rumah memiliki peran penting dalam membentuk karakter seorang anak dan orang tua berkontribusi besar dalam hal tersebut. Apabila rumah benar-benar menjadi tempat berlindung dan membentuk karakter positif pada anak, kekerasan anak bisa dicegah. Berikut merupakan beberapa hal yang bisa dilakukan, yakni:

  1. Membenahi pola asuh di rumah
  2. Orang tua menerima kondisi atau keadaan anaknya apa adanya
  3. Apabila terjadi sesuatu hal tidak diinginkan, orang tua berani dan mau bekerja sama dengan berbagai pihak, seperti sekolah, psikolog, konselor, pihak hukum, dan pemerintah
  4. Orang tua mengendalikan emosinya sendiri
  5. Refleksi diri apa yang sudah dilakukan kepada anak setiap harinya: apakah sudah mau mendengarkan anak, atau apakah sudah tidak menyela perkataan anak
  6. Mengajarkan kepada anak bahwa tidak boleh menyakiti sesama

Namun, untuk memerangi kekerasan anak, terutama pada ABK, tidak bisa hanya dari rumah saja, tetapi juga lingkungan yang lebih luas lagi. Masyarakat perlu menerima keadaan ABK, tidak mengucilkan, dan menyadari bahwa ABK memiliki hak yang sama sehingga diskriminasi bisa diminimalisasi. Akan tetapi penting pula bagi ABK dan penyandang difabel untuk tidak menyerah dan mencari potensi diri.

***

Gambar feature diambil dari sini

Categories: Kegiatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: