“Saat ini, saya buka warung di depan rumah, tapi pelanggan semakin berkurang.”

“Online shop saya belum memiliki pelanggan.”

“Saya ingin menjualkan hasil karya anak, tapi bingung bagaimana caranya.”

 

Memiliki situasi yang sama dengan permasalahan di atas? Kegiatan Bincang Santai pada tanggal 9 dan 16 November 2018 membahas serangkaian topik tentang wirausaha dan pemasaran. Topik ini masih menjadi topik yang menarik karena banyak orang ingin memiliki usaha sendiri dan mengembangkan usaha yang sudah dimiliki, termasuk orang tua dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Selain itu, orang tua ABK biasanya juga membutuhkan ilmu wirausaha dan pemasaran apabila mereka ingin menjual hasil karya anak dan mengajarkan wirausaha kepada anak mereka. Wirausaha mengajarkan anak untuk berpikir kreatif, meningkatkan kepercayaan diri, menciptakan peluang atau kesempatan, mengajarkan anak mengenai keuangan, serta mengajarkan anak tentang kegigihan.

Kewirausahaan (entrepreneurship) merupakan proses seseorang dapat melihat kesempatan berharga dan bagus untuk dijadikan sebagai peluang suatu usaha. Peluang usaha dapat dilihat dari kemampuan, hobi yang dimiliki, dan hasil pengamatan lingkungan sekitar. Contohnya, sampah serbuk kayu yang ada di lingkungan sekitar juga dapat menjadi peluang usaha apabila dijadikan bahan furnitur.

Setelah mengetahui peluang usaha yang ingin dikembangkan, diperlukan inovasi dan kreativitas agar usaha tersebut memiliki daya tarik bagi konsumen. Selain itu, untuk keberlanjutan usaha yang digeluti, wirausahawan juga perlu memiliki nilai integritas dan profesionalisme agar usaha tersebut dipercaya dan diandalkan oleh konsumen. Namun, mengingat memiliki usaha yang berkelanjutan tidaklah mudah, tak jarang wirausahawan menyerah setelah mengalami kegagalan atau kerugian. Padahal, seorang wirausahawan harus siap untuk menghadapi dan menerima keuntungan maupun kerugian dengan mental dan keyakinan yang kuat, serta selalu optimis.

Salah satu kegagalan yang sering dialami oleh wirausahawan adalah kurangnya konsumen yang memakai produk atau jasa yang dijual sehingga keuntungan yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Untuk mendapatkan konsumen, wirausahawan melakukan promosi atau pemasaran.

Saat ini, sebagian besar penjualan produk atau jasa dipromosikan melalui media sosial atau iklan. Hal tersebut merupakan salah satu cara efektif untuk menarik perhatian konsumen. Namun, bagi beberapa orang, memasarkan melalui media sosial atau iklan bukanlah hal yang mudah karena membutuhkan kreativitas dan strategi promosi penjualan yang tepat. Dengan begitu, strategi pemasaran harus dibuat menarik, sehingga konsumen membeli produk atau jasa yang dipasarkan. Salah satu strategi pemasaran adalah menggunakan tahapan AIDA.

Tahapan AIDA merupakan singkatan dari Attention, Interest, Desire, Action yang digunakan sebagai pedoman dan pertimbangan dalam pemasaran produk karena tahapan atau proses-prosesnya yang sederhana. Setiap tahapan AIDA dibuat untuk menghasilkan luaran yang diinginkan dan dapat menyampaikan pesan kepada konsumen. Berikut merupakan penjelasan masing-masing tahap AIDA:

1. Attention – mendapatkan perhatian dari konsumen

2. Interest – membuat konsumen tertarik pada produk yang akan dipasarkan

3. Desire – memberi rangasangan kepada konsumen untuk suka terhadap produk yang akan dipasarkan.

4. Action – mendorong konsumen untuk mengambil tindakan membeli produk.

Selain itu, yang juga perlu diperhatikan dalam memasarkan produk atau jasa adalah wirausahawan harus dapat membaca peluang pasar dan usaha tersebut mempunyai ciri khas sehingga diharapkan dapat menarik perhatian konsumen hingga membeli produk atau jasa tersebut. Oleh karena itu, wirausahawan perlu merancang terlebih dahulu usaha yang ingin dikembangkan, termasuk merancang strategi pemasaran.

Berdasarkan pemaparan sebelumnya, bukan hal yang perlu ditakuti oleh wirausahawan apabila mengalami kegagalan dalam menjalankan usaha. Dengan mental yang kuat, optimisme, strategi yang tepat, dan kreativitas, bukan hal yang tidak mungkin mengembangkan usaha agar tetap berkelanjutan. Nah, jangan ragu untuk memulai berwirausaha dan ayo berwirausaha!

%d blogger menyukai ini: