WeCreativez WhatsApp Support
kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda. Tanya kami apa saja!
Hai, apa yang bisa kami bantu?

No One Left Behind: Berdaya Bersama Melalui Suara Disabilitas Part I

Pada Festival Berani Bersuara untuk Berdaya yang digelar Yayasan Peduli Kasih ABK, para peserta yang berhasil menjadi pemenang berkesempatan untuk menjadi narasumber dalam webinar “Berdaya Bersama Melalui Suara Disabilitas”. Webinar tersebut dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama Rabu, (20/4/2022) diisi oleh Nur Fachrozi sebagai juara pertama dan Tazkia N. Rahmah sebagai juara kedua. Sedangkan narasumber utamanya adalah Tonny Santoso, M.Pd.–Tenaga Ahli Pusat Prestasi Nasional, Kemendikbud. Beliau memberikan tanggapan, apresiasi, dan motivasi kepada para pemenang maupun para disabilitas supaya berani bersuara untuk berdaya. 

Nur Fachrozi (25 tahun) biasa disapa Oji adalah disabilitas intelektual. Ia aktif berkegiatan di Rumah Komunitas Difabel Semarang untuk terus melatih kemampuanl public speaking-nya. Sebelum memiliki keahlian public speaking, Oji adalah anak yang minder dan takut kalau bertemu orang. Terlebih pengalaman sekolahnya yang sering dibully, membuat rasa mindernya sangat kuat. Usai ia tamat SMA di SLB pun Oji hanya menganggur tanpa ada kegiatan apapun.

Namun, beruntung pada tahun 2020 ia menemukan Komunitas Sahabat Difabel Semarang pada suatu acara televisi. Ia yang seorang disabilitas pun turut bergabung dan mulai mengikuti beberapa kelas. Kelas yang diikuti Oji antara lain kelas pengembangan diri, public speaking, moderator, fasilitator, dan kini ia mulai belajar menjadi content creator. Pengalaman berkesan bagi Oji selama belajar public speaking, yaitu ia pernah secara tiba-tiba ditunjuk menjadi MC padahal belum mengetahui naskahnya. Namun, siapa sangka Oji dapat menjadi MC yang baik pada saat itu. 

Sedangkan Tazkia N Rahmah yang biasa disapa Rahmah adalah disabilitas tuli. Ia sedang menjalani pendidikan sebagai mahasiswa Unesa. Meskipun tuli, bukan halangan bagi Rahmah untuk menyukai kegiatan public speaking karena ia tetap mampu bersuara dengan bahasa isyarat. Melalui public speaking ia ingin banyak orang semakin paham mengenai isu disabilitas karena menurut pengalamannya, banyak orang yang belum paham terkait disabilitas. 

Ia juga ingin supaya teman-teman disabilitas tidak takut, minder, atau merasa terpinggirkan dengan keterbatasan yang dimiliki. Percaya bahwa kita semua setara, bisa mengikuti banyak kegiatan, dan bertemu lebih banyak orang bisa melatih kepercayaan diri kita. Ayo, disabilitas bisa bersuara!” Seru Rahmah menggunakan bahasa isyarat. Tak lupa ia mengajak para keluarga maupun masyarakat untuk saling mendukung, memahami, dan membantu para penyandang disabilitas.

Selanjutnya, Pak Tonny menyampaikan bahwa pengalaman, harapan, maupun motivasi yang disampaikan oleh Oji dan Rahmah sebetulnya sudah disuarakan juga oleh pemerintah pusat. Biasanya yang menyuarakan adalah Pak Tonny sendiri kepada dinas pendidikan dan semua kalangan supaya Indonesia memiliki budaya inklusif. Apa yang disampaikan Oji dan Rahmah sudah didukung oleh banyak kebijakan dan regulasi. Semua berharap kita menjadi masyarakat yang inklusif dan menghargai keberagaman. Suara-suara itu sudah diwacanakan sejak era 90-an. Tapi sekarang sudah 2022 belum juga menunjukkan hasil yang diharapkan. Masyarakat masih ragu dengan kemampuan penyandang disabilitas. 

Kemudian Pak Tonny beranggapan bahwa Festival bersuara untuk berdaya sebetulnya bukan main, karena suara itu datang dari mereka yang memang disabilitas. Dari video Oji misalnya. Ia menyatakan kepada para disabilitas untuk  “Jangan pernah minder, jangan pernah takut untuk mencoba hal baru, dan tetap berjuang.” Kutipan tersebut diakui sangat keren oleh Pak Tonny. Sedangkan kutipan luar biasa lainnya datang dari Rahmah. “Disabilitas harus berjuang untuk masa depan Indonesia yang inklusif dan ramah disabilitas.” 

Melalui kemampuan public speaking yang dimiliki oleh disabilitas (tidak hanya para juara Festival Bersuara), Pak Tonny berharap supaya mereka tetap menyuarakan tentang kesetaraan dan tidak selesai di festival ini saja. Suara disabilitas harus terus digaungkan untuk membuka akses seluas-luasnya. “Penyandang disabilitas juga memiliki hak di setiap bidang. No one left behind. Semua anak bisa mengikuti pendidikan. Semua anak bisa bekerja.” Pungkas Pak Tonny.

Leave a Reply

Scroll to Top
%d bloggers like this: