WeCreativez WhatsApp Support
kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda. Tanya kami apa saja!
Hai, apa yang bisa kami bantu?

Rumahku Laboratoriumku: Belajar Eksperimen Sains di Rumah

Noor Aini Prasetyawati, praktisi home schooling yang menerapkan pendidikan informal berbasis keluarga. Beliau memiliki anak bernama Roetji Noor Soepono yang memiliki rasa penasaran luar biasa selama menempuh pendidikan home schooling yang dipraktisi keluarganya sendiri. Pada (23/3/2022) Yayasan Peduli Kasih ABK berkesempatan mengundang Bu Noor Aini dan Roetji dalam kelas diskusi #Akademiability untuk berbagi pengalaman belajar eksperimen sains di rumah. 

Secara pribadi, Roetji sangat tertarik dengan sains. Menurutnya, sains seperti misteri yang mengundang siapa saja untuk tertarik menjadi detektif dan bergabung dalam kesenangan. Bu Noor Aini pun memiliki prinsip bahwa pembelajaran sains akan menjadi bagian dari pendidikan karakter. Dalam mendidik akademis anak, selalu sisipkan pendidikan karakter karena anak perlu dibantu pembentukan karakternya. 

Terdapat dua sesi yang dipraktikkan Bu Noor Aini untuk Roetji dalam menjalani home schooling. Pertama, sesi akademis terstruktur dan sesi bebas atau mastery creativity. Dalam sesi bebas ini, Roetji dibebaskan bereksperimen apapun yang ia ingin ketahui. Orang tuanya pun turut mendampingi dan memfasilitasi. Contoh eksperimen yang dilakukan Roetji di rumah adalah menghitung titik leleh kue sembari membuat kue, membuat sekaligus menata gambar tata surya, melihat sel daun melalui mikroskop mainan, memasang proton dan neutron pada telur, dan membuat hiasan kupu-kupu yang dikeringkan. Waktu masih balita, Roetji juga sudah senang eksperimen. Ia mencoba mencampur berbagai warna untuk melihat warna baru yang dihasilkan. Di sini, tugas orang tua selain mendampingi saat praktik juga harus menjelaskan makna dari eksperimennya. 

Selain bereksperimen di rumah, Roetji juga belajar melalui alam sekitar. Misalnya ia menggambar dengan mencontoh daun dan bunga sungguhan. Lalu Roetji juga difasilitasi belajar dengan piknik. Seperti rekreasi bersama keluarga mengunjungi museum atau tempat wisata edukasi dan belajar di sana. 

Selanjutnya, kegiatan belajar yang tidak boleh ketinggalan adalah membaca buku. Buku belajar untuk anak tidak selalu harus buku cerita maupun komik. Buku sains juga sudah bisa dibaca oleh anak demi menunjang pengetahuannya. Contoh buku yang telah dibaca Roetji adalah Kepulauan Nusantara karya Alfred Russel, Dari Kutu Sampai ke Gajah karya Slamet Soeseno, Taman Firdaus Terakhir karya Slamet Soeseno, The Childboook of Nature karya Worthington Hooker, The Strory Book of Science karya Jean Henri. Buku yang paling disenangi Roetji yaitu buku yang berjudul Dari Kutu Sampai ke Gajah karya Slamet Soesno. Ia mengakui, mulanya merasa bosan membaca buku tersebut. Namun setelah berkelana beberpa halaman, buku tersebut justru menjadi yang paling ia gemari.

Lantas, bagaimana memfasilitasi pendidikan anak?

Bu Noor Aini dan suami sejak awal telah berkomitmen menganggarkan banyak dana dan usaha untuk pendidikan Roetji. Misalnya dengan membelikan buku-buku dan mengunjungi banyak tempat edukasi sebagai wahana piknik. Selain itu, fasilitas yang tidak kalah pentingnya adalah memperbolehkan anak melakukan eksperimen dengan apapun yang ada di rumah. Dan tidak perlu marah apabila ada barang yang rusak. Itu sudah menjadi bagian dari proses belajar anak.

Contoh pada saat Roetji belajar perbedaan reaksi minyak dan garam yang membutuhkan wajan. Kemudian wajan yang digunakan gosong, maka Bu Noor Aini tidak masalah dengan apa yang terjadi pada wajannya. Di samping itu, pendampingan orang tua saat anak melakukan eksperimen juga sangat dibutuhkan. Terutama apabila menggunakan bahan maupun alat yang berbahaya. 

Bagaimana membangun kedekatan orang tua dan anak?

Menilik kedekatan Roetji dan kedua orang tuanya, rupanya mereka sangat memprioritaskan kebersamaan keluarga. Bersama dalam hal ini bukan sebatas secara fisik dan selalu ada berdekatan. Namun memaksimalkan interaksi orang tua dan anak. Misalnya ketika tidak bisa bertemu, maka sempatkanlah video call. Atau ketika sedang bersama, maka coba mengobrol dengan menjauhkan gadget. 

Kebiasaan yang diterapkan keluarga Bu Noor Aini adalah berpelukan. Berpelukan dapat memberikan ketenangan dan rasa aman. Apabila di antara Bu Noor Aini, Roetji, atau suami ada yang merasa marah. Maka mereka saling mengajak berpelukan. 

Terakhir, Bu Noor Aini berpesan kepada kita semua, “Anak mudah merasa sakit hati atau tertolak ketika orang tua di sampingnya tapi tidak memberi perhatian padanya.”

Penulis: Hayah Nisrinaf  

Leave a Reply

Scroll to Top
%d bloggers like this: