WeCreativez WhatsApp Support
kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda. Tanya kami apa saja!
Hai, apa yang bisa kami bantu?

Mengoptimalkan Terapi Okupasi untuk Anak Down Syndrome

Dalam rangka ikut memberikan dukungan untuk anak dengan Down Syndrome kelas diskusi #Akademiability kembali menggelar webinar dengan tajuk Kiat Optimalkan Terapi Okupasi untuk Anak Down Syndrome. Sebenarnya apa itu terapi okupasi? Jadi terapi okupasi adalah sebuah layanan untuk anak dengan down syndrome yang dimulai sejak intervensi dini dari bayi-balita sampai individu Down Syndrome menginjak usia berbicara, pra sekolah, sekolah, remaja sampai dewasa dalam penentuan pencarian pekerjaan (vokasional). Sehingga range terapi okupasi bagi penyandang Down Syndrome sangatlah luas.

Terapi okupasi pun dalam praktiknya melibatkan berbagai pendekatan seperti neurodevelopmental therapy, sensory integration, dan behavior therapy. Salah satu teknik yang digunakan dalam terapi okupasi yakni NDT (neurodevelopmental therapy). NDT ini dapat terlihat pada komponen sensorimotor seorang anak. NDT sangat penting sebab dapat digunakan untuk menentukan apakah si anak anak memiliki tonus otot yang baik atau tidak. NDT sebagai bagian dari fase awal jika tidak terlaksana dengan baik akan memengaruhi keberlangsungan penyandang Down Syndrome, bisa jadi berpengaruh terhadap kemampuan intelegensinya.

Tri Gunadi, sebagai Founder Yamet Child Development Center sekaligus Konsultan ABK menjelaskan bahwa kunci dari pelaksanaan terapi koupasi yakni haruslah Konsisten (Teratur & Rutin), Kontinyu (berkelanjutan), Kolaborasi, artinya tidak cukup orang tua hanya menitipkan anaknya di tempat terapi tetapi orang tua juga harus menerapkan nya di rumah. Dan yang terakhir adalah Konsekuen, artinya keluarga haruslah mau bekerjasama dengan profesional untuk terus melakukan interaksi dan memberi arahan kepada anak. 

Di rumah orang tua dapat membuat jadwal bergambar (Visual) untuk anak, kemudian tempel di tembok dengan posisi sejajar mata anak, ucapkan kata-kata tersebut dengan padat, singkat, jelas dan anak melihat. Dalam berkomunikasi dengan anak Down Syndrome pun cobalah dengan memberi penekanan pada depan setiap suku kata, seperti kata ‘mandi’ diucapkan dengan penekanan menjadi ‘maaandi’. Hal tersebut dilakukan sebab memori anak Down Syndrome cenderung singkat, sehingga memberikan penekanan pada suku kata pertama saat berbicara bisa membantu meningkatkan kemampuan memori si anak. Selain itu, buatlah sebuah SOP setiap kegiatan si anak, SOP tersebut ditempel di tembok (laminating terlebih dahulu karena akan di tempat basah seperti kamar mandi) dan ucapkan sebelum melakukan kegiatan tersebut.            

Bersama dengan profesional, nantinya orang tua akan dibantu dalam menentukan zona-zona anak Down Syndrome. Zona pertama yakni zona hijau, yaitu zona ‘what I can do’, zona ini menentukan apa yang mampu dilakukan si anak. Zona berikutnya yakni zona orange, ‘what I can do with help’. Pada zona orange ini adalah peningkatan dari zona hijau. Pada zona orange si anak jika melakukan sendiri tidak mampu, tetapi dia mampu melakukannya dengan bantuan orang lain. Zona ini adalah zona yang perlu dimaksimalkan, agar anak tidak terjebak dalam zona nyamannya (zona hijau). Yang berikutnya yakni zona putih, yaitu zona ‘what I can’t do’. Zona ini adalah zona yang tidak bisa dilakukan oleh anak Down Syndrome meskipun dengan bantuan orang lain. Zona ini cenderung sebaiknya sangat dihindari.

Didalam terapi okupasi, setiap tahapan pondasi anak akan terus dipantau, mulai dari motorik kasar, motorik halus, kemampuan pengamatan, kemampuan bicara, kemampuan, sosialisasi, dan lain sebagainya. Pengamatan tersebut dilakukan agar kemampuan anak menjadi seimbang dan tidak dominan atau kekurangan. Untuk mematangkan kemampuan anak Down Syndrome langkahnya satu persatu, pertama matangkan kemampuan sensorik- kemampuan bicara- kemampuan akademik- pematangan masa pubertas- pematangan dunia kerja dan vokasional. Tetapi yang perlu menjadi catatan bagi orang tua yakni janganlah berfokus pada kemampuan IQ tetapi perlu diperhatikan juga kemampuan AQ, EQ, dan SQ.

Penulis: Evi

Leave a Reply

Scroll to Top
%d bloggers like this: