WeCreativez WhatsApp Support
kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda. Tanya kami apa saja!
Hai, apa yang bisa kami bantu?

Mengembangkan Empati dan Kreativitas pada Anak sebagai Upaya Merestorasi Mentalitas Anak Selama Masa Pandemi Covid-19

Di tengah-tengah meningkatnya kasus positif Covid-19 di Indonesia, perhatian kita semua tertuju pada nasib anak-anak yang menjadi korban. Ada anak-anak yang terpapar virus, ada pula anak-anak yang harus kehilangan orang tua dan keluarganya (menjadi yatim piatu), serta bahkan ada anak-anak yang harus meregang nyawa. Realita yang memilukan tersebut harus kita alami bersamaan dengan perayaan Hari Anak Nasional. Tentunya, perasaan kita bercampur aduk karena perayaan Hari Anak Nasional yang seharusnya kita rayakan dengan gembira (sepenuhnya), kini menjadi (kurang) gembira karena keprihatinan kita terhadap keadaan anak-anak yang sedemikian sulit. Tidak enak memang kedengarannya, namun begitulah kenyataannya.  Kita perlu jujur dengan perasaan semacam ini karena itulah bentuk empati kita terhadap kondisi mereka di masa pandemi. Mengapa empati itu menjadi sesuatu yang penting di masa pandemi? Kalau menurut saya, empati menjadi sesuatu yang penting karena itulah nilai utama yang kita butuhkan, bahkan yang anak-anak butuhkan untuk terus menghubungkan diri dengan orang lain dan lingkungan di sekitarnya. 

Beberapa waktu lalu saya pernah mendengar pernyataan dari pihak pemerintah bahwa tantangan terbesar bagi anak-anak di masa pandemi ialah pertama-tama soal mentalitas anak yang tidak bisa berkembang dengan baik karena terbatasnya ruang gerak anak untuk berinteraksi secara langsung dengan teman-temannya baik itu dalam lingkup sekolah, pergaulan, maupun aktivitas bermain. Hal ini mengakibatkan anak-anak lebih mudah stres dan tertekan dengan berbagai macam aktivitas rutin mereka, salah satu contoh misalnya sekolah daring. Memang situasi tersebut bisa ditanggulangi dengan cara memanfaatkan sarana-sarana hiburan daring seperti gawai, laptop, dan sebagainya, namun menurut saya, metode seperti itu tidaklah cukup. Anak-anak di masa pademi ini juga membutuhkan suplai empati yang cukup dari orang tua maupun orang-orang terdekat di dalam rumah. Mengapa? Karena mereka bisa saja mengalami krisis empatik atau saya menyebutnya “kehabisan energi untuk bersikap peduli” sebagai konsekuensi logis dari terbatasnya ruang gerak interaksi langsung. Memupuk rasa empati dan kepedulian dalam diri anak di tengah-tengah masa pandemi ini secara tidak langsung bisa menjadi kekuatan ekstra bagi mereka untuk tetap bertahan secara mental sekaligus mempertahankan pertumbuhan karakter dan moralitas yang baik selama masa pandemi.

Lantas, bagaimana cara mengembangkan empati pada anak di tengah-tengah situasi yang serba terbatas? Di sinilah kita bisa memanfaatkan kreativitas. Sebagai orang tua, kita memang tidak bisa merubah diri kita kembali menjadi anak kecil, tetapi setidaknya kita pernah melalui pengalaman sebagai anak kecil. Kita bisa menjadi teman dan sahabat bagi anak-anak melalui tindakan-tindakan kita yang menyenangkan sekaligus merangkul. Kita bisa menghabiskan waktu bersama anak-anak untuk menghibur mereka ketika mereka mulai penat dengan aktivitas daringnya. Metodenya macam-macam, bisa bermain bersama di rumah, membuat kerajinan tangan, aktivitas yang menghibur seperti bernyanyi bersama atau bermain musik, olahraga bersama di rumah dan lain sebagainya. ekspresi-ekspresi kreatif dari orang tualah (atau orang-orang terdekat bagi anak-anak yang sudah tidak mempunyai orang tua) yang akan dipelajari oleh anak-anak untuk mengembangkan kreativitas mereka sendiri. Prinsipnya sederhana, empati bukan hanya soal merasakan (simpati), melainkan juga soal tindakan nyata (kepedulian). Kepedulian nyata yang terwujud melalui kreativitas dapat menjadi nutrisi yang sehat bagi mentalitas anak.   


Tulisan ini merupakan salah satu dari 30 karya tulis terbaik dari Lomba Menulis dalam rangka Hari Anak Nasional 2021 yang diterbitkan melalui E-book “Refleksi Harapan Anak Indonesia di Masa dan Setelah Pandemi” 

Dapatkan e-book ini dengan mengakses dan mendownload di link

bit.ly/Ebook-RefleksiAnakIndonesia

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top
%d blogger menyukai ini: