WeCreativez WhatsApp Support
kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda. Tanya kami apa saja!
Hai, apa yang bisa kami bantu?

Kisah-Pesan Amalia Prabowo, Orang Tua Anak Disleksia

Amalia Prabowo adalah penulis buku yang telah difilmkan, berjudul Wonderful Life. Buku yang tersebut terinspirasi dari kedua anaknya yang menyandang disleksia, Aqil dan Satria. Dalam mendidik Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dengan disleksia, bukanlah hal yang mudah bagi Amalia maupun para orang tua lainnya. 

Disleksia sendiri merupakan kesulitan seseorang dalam melafalkan kata dan kalimat, membaca, menghitung, serta menghafal. Hal tersebut membuat Aqil, anak dari Amalia yang pada saat itu usia 6 tahun berada di sekolah normal tidak bisa membaca, kalimat yang dilafalkan hanya sedikit dan kurang jelas, serta tantrum. Gurunya pun memberikan justifikasi, bahwa Aqil tidak akan memiliki masa depan akademis. Amalia yang berada di kalangan keluarga akademis merasa jatuh dan sulit menerima keadaan Aqil. Sampai akhirnya melalui proses panjang, tersadarlah Amalia dari ucapan seorang supir taksi–yang suatu ketika ia tumpangi. Dalam perjalanan bersama keluh kesah Amalia memiliki anak disleksia, supir taksi itu pun memberikan pesan, “Semua itu diputuskan Tuhan dengan kasih. Anak-anak diciptakan dengan kehendak Allah. Jadi, tidak mungkin tidak memiliki masa depan.” 

Kala itu Aqil sudah berusia 10 tahun dan dibawah asuh ibu Amalia atau nenek Aqil. Setelah disadarkan oleh supir taksi yang padahal belum pernah berjumpa sebelumnya, Amalia menemui ibunya, melakukan sungkem, dan mengasuh kembali Aqil untuk kemudian diberikan perawatan-perawatan yang tepat dengan mendatangi para ahli. Tidak luput Amalia mencari pengetahuan mengenai disleksia sebanyak mungkin supaya tidak salah terapi. Baru kemudian Amalia mendatangi dokter anak, psikolog, dan ahli saraf, untuk mendapatkan pengetahuan lebih lengkap serta penanganan yang tepat untuk anaknya. Dari situlah Amalia juga mendapatkan informasi bahwa Aqil memang benar-benar disleksia dengan keadaan yang cukup parah. 

Tidak sampai di situ, berkumpul dengan para orang tua ABK juga membuat beban yang dimiliki tidak teramat berat. Hal ini sangat disarankan oleh Amalia kepada para orang tua ABK. Dengan berkumpul dan saling berbagi dapat memberikan pengalaman maupun pengetahuan baru pada masing-masing orang tua dari sudut pandang sesama orang tua ABK. Diharapkan pula setiap orang tua dapat saling terbuka atas permasalahan dan solusi di setiap merawat anaknya.

Dalam kelas diskusi Yayasan Peduli Kasih ABK bersama Amalia sebagai narasumber (31/07/2021), beliau menyampaikan salah satu kutipan dari film Wonderful Life, “Setiap anak itu sempurna dengan segala kelebihan dan kekurangan.” Terkait juga dengan kutipan dari supir taksi sebelumnya, bahwa anak memang diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan yang saling melengkapi. Tidak ada kata bahwa anak tidak memiliki masa depan, karena sesungguhnya kelebihanlah yang memberikan masa depan tersebut. Janganlah hanya fokus terhadap kekurangannya saja. Melainkan dari kekurangan itulah dapat diperbaiki atau bahkan menemukan kelebihannya. 

Aqil yang kini bergerak di bidang seni rupa khususnya melukis, memiliki proses cukup panjang untuk menemukan kegemaran dan kemahirannya tersebut. Butuh kesabaran bagi Amalia menghadapi Aqil yang memiliki banyak kegemaran tapi beberapa kali ditanggalkan di tengah jalan atau bahkan sebelum memulai. Tiada lelah bagi Amalia mencarikan guru, komunitas, dan peralatan yang dapat mendukung kegemaran Aqil. Hingga setelah sekian eksplorasi dan proses penemuan kegemaran, Aqil benar-benar menekuni bidang seni rupa. 

Bagi setiap orang tua khususnya dengan ABK, kunci utama menemukan bakat anak memanglah dengan kesabaran dan dukungan tinggi. (NAF).

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top
%d blogger menyukai ini: