Kiat Orang Tua Mengajarkan Seksualitas Pada ABK !

ABK memiliki risiko lebih besar untuk mendapat kekerasan seksual dibandingkan yang bukan ABK. Hal ini dikarenakan ABK memiliki perasaan yang lebih mudah luluh dan terkadang belum memiliki pemahaman mumpuni terkait seksualitas. Maka sudah sepatutnya ABK mendapatkan pemahaman seksualitas sejak dini. Meskipun ia berkebutuhan khusus, pemahaman dan penyikapan terhadap seksualitas tetap disamakan dengan yang bukan ABK. 

Menurut Dra. Marisa Fransiska Moeliono, M.Pd., ABK sudah dapat dipahamkan perihal seksualitas sejak ia bisa berdiri dan mandi sendiri. Pemahaman yang paling mendasar adalah mengajarkan nama-nama anggota tubuh. Kemudian mengenalkan bagian tubuh pribadi (yang tidak boleh ditunjukkan kepada orang lain) dan bagian tubuh umum. Untuk bagian pribadi sebagai alat reproduksi, Yayasan Peduli Kasih ABK sudah pernah menjelaskan cara mengenalkannya pada artikel “4 Cara Menjaga Kesehatan Reproduksi ABK”

Perlu diperhatikan juga, bahwa mengenalkan anggota tubuh khususnya bagian pribadi diharuskan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tidak menggunakan bahasa daerah, yang mana untuk bagian tubuh pribadi biasanya digunakan bahan guyonan, sehingga dapat merancukan pemahaman ABK. Jangan sampai ABK beranggapan bahwa pelecehan seksual baik itu ringan maupun berat menjadi sesuatu yang menyenangkan. Dalam menjelaskan, orang tua juga harus menampakkan wajah yang tenang tapi tegas dan tidak bercanda. Sebab ekspresi dapat membantu anak supaya mudah mengerti makna dari penjelasan.

Orang tua pun tidak bisa satu kali menjelaskan. Pengulangan dan konsistensi penyebutan anggota tubuh umum maupun pribadi sangat diperlukan supaya anak semakin paham. Tidak perlu cemas jika mengajak anak belajar seksualitas karena takut membuatnya ingin tahu lebih jauh. Orang tua dapat mengontrol apa saja yang bisa diajarkan dan mengajarkan secara berkala. Anak pun sebenarnya perlu banyak mengetahui perihal seksualitas untuk kebaikannya. 

Di samping itu, anak merupakan sexual being (makhluk seksual). Artinya, sejak dilahirkan ia akan terus berkembang secara sosial dan seksual sepanjang hidupnya. Selain pengajaran orang tua, ia juga akan belajar secara langsung ketika berinteraksi dengan masyarakat.

Dra. Marisa Fransiska Moeliono, M.Pd. yang merupakan dosen di Fakultas Psikologi Unpad ini menekankan bahwa, “Makin jelas dan benar informasi yang dimiliki anak, anak lebih siap dan mampu melindungi diri dan membuat keputusan benar terkait seksualitas.”

Namun, adakalanya ketika ABK menginjak usia remaja, ia sudah memiliki pergaulan dan suka bermain media sosial. Terkadang ia menonton video tidak senonoh yang bisa saja ditemukan di media sosial atau mendapat kiriman dari temannya. Saat orang tua mengetahuinya, marah bukanlah jalan pilihan. Akan tetapi orang tua dapat mengobrolkannya secara baik. Pesan yang utama adalah agar anak tidak melihatnya kembali dan tidak meniru isi dari video tersebut. Pun orang tua tidak perlu ikut menontonnya. Sebaliknya, video tersebut dapat diganti dengan tontonan edukatif atau hiburan yang lebih baik.

Berdasarkan pengajaran seksualitas karena rawannya ABK dalam lingkungan masyarakat. Orang tua hendaknya memberikan kewaspadaan tinggi. Terus membimbing dan mengajarkan banyak hal kepada ABK sudah menjadi kewajiban. Ditambah ABK sangat membutuhkan orang tua yang terbuka untuk bersedia membicarakan masalah seksualitas kepadanya. (NAF). 

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top
%d blogger menyukai ini: