Chandra Putra Negara: Berkah di Balik Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus

Chandra Putra Negara, motivator sekaligus pemilik kanal YouTube SuccesBefore30 dengan 3,44 juta subscriber ini memberikan motivasi kepada para orang tua ABK. Momen tersebut berada di kelas diskusi #Akademiability yang diadakan Yayasan Peduli Kasih ABK pada hari Kamis, 24 Juni 2021 lalu.

Chandra berulang kali menyampaikan kepada para orang tua ABK bahwa, “Memiliki ABK bukanlah musibah melainkan keberkahan.” Pernyataan tersebut bukanlah bentuk motivasi belaka tetapi kenyataannya memang seperti itu. Tidak ada yang menyangka takdir ke depan. Tidak ada yang mengetahui bagaimana jika orang tua tersebut tidak memiliki ABK. Hakikatnya, Tuhan selalu memberikan takdir terbaik kepada setiap hamba-Nya. Sekalipun terdapat takdir yang dianggap musibah, akan ada hal baik di baliknya. 

Sebuah musibah akan terus menjadi musibah ketika seseorang yang mengalaminya terus memikirkan musibah tersebut bahkan ketika terlampau lama. Padahal, terdapat kemungkinan kalau hadirnya musibah supaya tidak mendatangkan musibah lain yang mungkin saja dapat lebih parah. Atau kemungkinan lain, dengan hadirnya musibah dapat mendatangkan hal baik yang tidak disangka-sangka. 

Layaknya memiliki ABK, tentu Tuhan sudah menitipkan rahasia luar biasa pada anak tersebut. Itulah sebabnya orang tua ABK adalah sosok yang luar biasa, karena kesabaran, ketangguhan, dan kebesaran jiwanya yang mampu merawat ABK dengan sepenuh hati. Banyak ABK yang sukses karena didikan optimal dari orang tuanya. Fakanya, ilmuan, motivator, dan pebisnis dengan kebutuhan khusus dapat jauh lebih sukses daripada anak pada umumnya. Hal ini karena mereka yang berkebutuhan khusus mampu mengerahkan potensinya semaksimal mungkin dan sudah terlatih dengan segala rintangan.

“Dengan kita bisa merespons setiap peristiwa menjadi berkah, maka hidup kita akan selalu menjadi berkah.” Ungkap Chandra yang disusul dengan memberikan cara memandang kehidupan supaya mendapatkan keberkahan dari merespons peristiwa. Cara paling utama adalah tidak memandang segala hal yang berada di atas, terlebih untuk perbandingan.

Chandra pun memberikan contoh, ketika orang tua ABK kurang mampu membandingkan dirinya dengan orang tua lain. Orang tua sebagai pembanding tersebut memiliki anak tidak berkebutuhan khusus, kekayaan berlimpah, menikmati liburan setiap akhir pekan di tempat-tempat mewah, dan sebagainya. Dengan pandangan tersebut, hidup orang tua yang membandingkan justru akan seperti neraka. Sebaliknya, jika dapat melihat kenyataan yang lebih di bawahnya ia akan bersyukur, merasa beruntung, dan hidup menjadi penuh berkah. 

Kekuatan rasa syukur pun sangatlah berguna untuk mendapatkan kebahagiaan. Sebaliknya, terus menyesal tanpa memiliki rasa syukur dan terus menerus menyalahkan takdir maupun orang sekitar justru menjadikan musibah tetap bersemayam pada diri manusia. (NAF). 

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top
%d blogger menyukai ini: