Terjadi Kausalitas Pencemaran Sungai, ABK Turut Belajar Solusi Penangannya

Menjaga kebersihan sungai adalah kewajiban seluruh manusia. Sayangnya, kesadaran masyarakat akan hal tersebut masih begitu rendah. Padahal kehidupan manusia sangat bergantung kepada air. Di Indonesia sendiri, 80% air bersumber dari permukaan termasuk sungai. Sementara air digunakan manusia mulai dari minum, makan, kebersihan badan, dan kebersihan benda-benda. Belum ikan-ikan di sungai yang juga akan menjadi santapan manusia. 

Sebab dari rendahnya kepedulian masyarakat terhadap sungai tidak lain karena: (1) Tidak ada yang mengawasi untuk melaporkan bahwa perbuatan membuang sampah maupun limbah ke sungai tidaklah baik. (2) Kurang paham manfaat kebersihan sungai dan akibat dari membuang sampah di sungai. (3) Para manusia merasa tidak berhubungan secara langsung dengan sungai.

Dari ketiga sebab tersebut, terdapat akibat yang memberi dampak sangat buruk bagi kehidupan di sungai maupun manusia yang berada di daratan. Dari sampah maupun limbah yang dibuang di sungai mengandung senyawa-senyawa beracun, logam berat, pestisida, busa-busa deterjen, sisa-sisa bahan pabrik, dan banyak lainnya. Kandungan limbah tersebut dapat mengubah hormon makhluk hidup. Terutama pada ikan yang bersentuhan langsung dengan sungai, kabarnya kini memiliki kelamin yang tidak seimbang yaitu 80% betina dan 20% jantan. 

Plastik-plastik yang kerap dibuang sembarangan di sungai juga sangat berdampak pada makhluk hidup di dalamnya. Hal ini disebabkan ikan tidak bisa membedakan antara plastik dan plankton, salah satu makanan ikan. Ikan pun akan memakan plastik yang melayang-layang. Akibatnya, kandungan dalam ikan seolah tidak ada bedanya dengan limbah yang dibuang manusia di sungai. Beberapa akan mati, tetapi beberapa yang lainnya akan menjadi konsumsi manusia. Sementara bagi manusia, semakin sering mengonsumsi air dan makhluk hidup dari sungai yang tercemar, akan memperburuk kualitas kesehatannya. Di antaranya dapat merusak organ tubuh seperti ginjal, hati, dan sistem imun. 

Dari hubungan kausalitas pencemaran sungai, solusi yang diberikan tentu harus dilakukan oleh para manusia. Yayasan Peduli Kasih ABK telah melakukan kelas diskusi yang mengajarkan pada ABK untuk peduli dan merawat kebersihan sungai, dengan narasumber Pak Prigi Arisandi, Founder dan Direktur Ecoton. Dari situlah para ABK belajar memahami solusi apa saja yang dapat diberikan demi terhindarnya kausalitas pencemaran sungai seperti yang dijelaskan sebelumnya. Solusi yang paling dapat diraba yaitu tidak membuang sampah di sungai. 

Sayangnya, cara tersebut terkadang masih saja dilanggar oleh para pengolah pabrik. Maka kemudian para ABK sebagai konsumen ini diajarkan untuk mengurangi penggunaan produk dari industri penghasil limbah. Di antaranya baju, kertas, deterjen, dan sebagainya. Penting juga mengurangi penggunaan produk sekali pakai seperti plastik, sedotan, kemasan saset, sterofoam, popok sekali pakai, dan semacamnya. 

Solusi selanjutnya cukup sama dengan yang digaungkan selama ini, yaitu melakukan 3R: Reduce (mengurangi), Reuse (mengulangi), Recycle (mengolah). Perbedaannya, R yang terakhir alias recycle sebenarnya kurang efisien jika pengolahannya masih menghasilkan limbah. Dalam prosesnya sendiri, recycle cenderung membutuhkan sabun untuk mencuci, menggunakan bahan kimia, dipanaskan, dan belum lagi jika masih meninggalkan sisa-sisa bahan yang diolah sehingga tetap saja meninggalkan limbah. 

Salah satu upaya recycle yang pernah dilakukan para ABK di Yayasan Peduli Kasih ABK adalah dengan membuat barang fungsional dari kain perca. Cara ini cukup efisien, karena sebisa mungkin menggunakan kain perca secara maksimal atau tidak menyisakan kembali kain perca jika pada akhirnya tetap menghasilkan limbah.

Jadi, solusi yang terbaik untuk menghindari kausalitas pencemaran sungai adalah mengurangi dan menanggulangi pemakaian produk-produk yang menghasilkan limbah. Sedangkan mengolahnya kembali tidak begitu disarankan. Boleh dilakukan asalkan tidak meninggalkan limbah atau menghasilkan limbah baru. (NAF).

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top
%d blogger menyukai ini: