Menumbuhkan Jiwa Literasi Pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Literasi bukan sekadar kegiatan membaca dan menulis. Namun, literasi merupakan kemampuan yang mencakup pengetahuan dan kecakapan mengenai keahlian tertentu. Seiring dengan perkembangan masyarakat, literasi juga memiliki beragam jenis. Mulai dari literasi finansial, teknologi, digital, informasi, sampai politik. 

Untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), memiliki jiwa literasi yang tinggi tentu dapat menunjang kualitas hidupnya. Menumbuhkan jiwa literasi ini juga bukan hanya dari pustakawan atau pengajar saja. Melainkan orang tua juga harus menjadi faktor dalam menumbuhkan jiwa literasi ABK. Berikut adalah tiga cara penting dalam menumbuhkan jiwa literasi ABK:

  1. Terlibat dalam pengembangan literasi ABK

Seluruh orang berperan dalam keterlibatan pengembangan literasi ABK. Terutama kedua orang tua yang sudah bersama anak sejak kecil. Sebelum dikenalkan pada bacaan, sangat baik apabila anak dikenalkan dengan huruf-huruf sedini mungkin. Mulai dari cara menulisnya sampai cara mengucapkannya. Selanjutnya orang tua juga dapat membacakan cerita-cerita dengan intonasi yang mendukung jalannya cerita, supaya ABK tertarik dengan bacaan tersebut. Dalam poin ini, orang tua dapat memberikan bacaan yang sangat menarik perhatian anak. Dengan begitu, anak akan senang hati menumbuhkan jiwa literasi dalam dirinya. 

  1. Memberikan fasilitas membaca dan literasi kepada disabilitas atau ABK

Indonesia sejatinya sudah menjadi negara yang memiliki perpustakaan nasional dengan fasilitas-fasilitas ramah untuk para disabilitas atau ABK. Pada kelas diskusi #Akademiabiity bersama Bu Lana (Pustakawan Perpusnas di Layanan Lansia dan Disabilitas) dan Bu Fitri (Dosen Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Unair). Bu Lana menjelaskan berbagai fasilitas yang sudah tersedia di Layanan Lansia dan Disabilitas. Di antaranya adalah berbagai macam buku, lebih dari 5000 karya braille, 1202 audio book, dan 5500 eksemplar koleksi monograf. Selain itu, komputer bicara, CCTV low vision, dan ruang baca khusus, semuanya tersedia khusus untuk para disabilitas atau ABK yang ingin mengembangkan literasinya. Fasilitas lain seperti tempat parkir khusus disabilitas, guiding block, dan toilet disabilitas, juga tersedia di Perpusnas. Pengguna kursi roda hingga tunanetra dapat nyaman dan terfasilitasi dengan baik ketika berada di Perpusnas. 

Pelayanan di Perpusnas sendiri juga sudah dibekali dengan baik. Layanan-layanan yang diberikan akan diusahakan untuk sesuai dengan pengunjung disabilitas. Staf berkebutuhan khusus pun terlibat dalam fasilitas layanan disabilitas tersebut, supaya sudut pandang dari disabilitas dapat terpenuhi. Hal ini menunjukkan betapa Indonesia peduli terhadap literasi ABK.

Untuk ABK sendiri jika belum merasakan fasilitas-fasilitas yang sangat ramah terhadap ABK, dapat langsung mencobanya dengan berkunjung ke Perpusnas. Pada perpustakaan lokal sendiri, umumnya masih belum terdapat fasilitas serupa Perpusnas. Namun, memfasilitasi anak dengan beragam buku, pengajaran, dan kunjungan perpustakaan dapat menjadi alternatif dalam menumbuhkan jiwa literasi pada ABK. 

  1. Mengontrol anak dalam menggunakan gawai. 

Dewasa ini, perkembangan teknologi digital sangat memengaruhi kehidupan manusia. Tak terkecuali ABK yang sudah mengenal gawai. Meskipun kini buku dan segala informasi mampu didapatkan melalui gawai, tetapi anak cenderung menggunakannya justru tidak untuk mengembangkan jiwa literasinya. Kunci pertama jika anak sudah kecanduan gawai adalah dengan mengarahkannya ke literasi digital. Kendati gawai memiliki dampak negatif, jika digunakan dengan baik maka akan berdampak positif. Pun anak jangan sampai gaptek, karena banyak kegiatan sehari-hari yang juga memanfaatkan perkembangan teknologi digital.

Dalam pengontrolan anak yang gemar bermain gawai, kecanduan untuk tidak dapat lepas dari gawai atau aplikasi hiburan kurang mendidik kerap menjadi masalah bagi orang tua. Cara untuk melakukan pengontrolan dapat dengan membatasi anak dalam bermain gawai yang dapat dilakukan secara manual dari orang tua sendiri atau mengontrol otomatis dari gawai yang digunakannya. Pengontrolan otomatis ini dapat dilakukan melalui fitur Digital Wellbeing and Parental Controls. Pada fitur yang berada di pengaturan gawai, orang tua dapat mengontrol sendiri waktu yang dapat digunakan anak dalam membuka suatu aplikasi, atau menentukan waktu untuk memulai dan mengakhiri dalam penggunaan gawai. Dalam fitur tersebut, ketika batas waktu yang sudah ditentukan selesai maka aplikasi atau gawai akan secara otomatis tertutup. 

Itulah tiga cara penting dalam menumbuhkan jiwa literasi ABK. Pentingnya literasi, akan membuat anak tersadar akan banyak hal yang belum diketahuinya. Bagi ABK sendiri, memberikan kenyamanan dan ketertarikan terhadap pengembangan literasinya adalah hal yang utama. (NAF).

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top
%d blogger menyukai ini: