Cara Orang Tua Menjadi Coach dan Mentor ABK

Sudah selayaknya orang tua sebagai guru pertama bagi anak. Sudah selayaknya pula, rumah menjadi sekolah pertama bagi anak. Tak terlepas dari Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang hendaknya diberi keistimewaan dalam memperlakukannya. Sebagai guru pertama di sekolah pertama, orang tua yang berada di rumah dengan anak akan bereran menjadi coach dan mentor anak. Coach sendiri memiliki makna, sosok cerminan yang akan membantu untuk menggali potensi, minat, dan bakat anak. Sedangkan mentor berarti sosok yang berbagi pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki untuk diajarkan.

Sudah semestinya orang tua meskipun dengan ABK menginginkan anaknya memiliki minat dan bakat serta keterampilan dalam suatu hal. Sebelum mulai menentukan minat dan bakat ABK, terdapat tiga tahapan utama bagi orang tua untuk menjadi coach dan mentor ABK. Chrisantine Angelina yang merupakan Trainer di Woman Coach Surabaya menyatakan tahapan tersebut adalah 3 M. Mengakui, Menerima, Memutuskan.

Tahap pertama, mengakui. Ketika orang tua mendapati anaknya merupakan ABK, sudah sepantasnya orang tua untuk mengakui keadaan anaknya. Seperti setelah mendapati diagnosa dari dokter, maka tidak ada salahnya untuk mengakui diagnosa tersebut. Hal ini berkaitan untuk menuju tahapan selanjutnya, yaitu menerima. Setelah mampu mengakui keadaan anak, orang tua hendaknya menerima dengan ikhlas. Anak merupakan pemberian dan anugerah dari Allah S.W.T.. Termasuk ABK yang memiliki keistimewaan tersendiri. Dengan menerima keadaan anak, orang tua sekaligus akan memberikan perlakuan yang baik terhadap anak. Sehingga anak mendapatkan dampak positif dan mampu berkembang lebih baik berkat orang tua

Setelah tahapan mengakui dan menerima diterapkan, tahapan selanjutnya tidak kalah penting. Tahapan ini merupakan tonggak bagi berkembangnya minat dan bakat anak. Memutuskan. Orang tua dapat mulai untuk memutusan mencari pertolongan seperti ke psikiater maupun ke sekolah khusus. Tahap ini akan menunjang pertumbuhan anak dengan bantuan orang yang lebih ahli. Tidak terlepas dari memutuskan, orang tua juga dapat memberitahukan keluarga dan orang sekitar supaya dapat peduli terhadap anaknya yang berkebutuhan khusus. Tiga tahapan ini sangat penting untuk dilakukan secara prosedural. Sebab di tahapan terpenting yaitu memutuskan, akan memberikan kemudahan sekaligus keefektifan bagi orang tua dalam mengembangkan minat dan bakat anak.

Selanjutnya mulailah orang tua untuk memutuskan menggali kemampuan pada anak. Sekecil apapun kemampuan anak, maka pasti dapat dikembangkan. Tidak luput juga dari dukungan penuh. Selain itu, haruslah dengan dukungan sepenuh hati. Sebagai bentuk mempersiapkan dalam mendukung bakat anak, orang tua harus mencari tahu pelatihan-pelatihan. Baik itu pelatihan bagi anak maupun orang tua sendiri. Bentuk pelatihan ini ada dua, yaitu pelatihan mental dan pelatihan keterampilan. Pelatihan mental berguna untuk menguatkan mental supaya dapat berbesar hati dan terus semangat. Sedangkan pelatihan keterampilan untuk melakukan strategi dan cara yang tepat dalam melatih kemampuan anak. Contoh pelatihan berbicara, anak setiap hari diajarkan kata sedikit demi sedikit. Orang tua sebagai coach yang baik harus selalu semangat untuk mengulang-ulang kata yang diajarkan. Alangkah lebih baik juga untuk mengembangkan kemamuan anak dengan membawanya ke orang yang berkompeten supaya mempercepat perkembangan dan rasa percaya diri anak.

Sebagai orang tua yang menemani anak di rumah sekaligus sebagai coach dan mentor, disajikan juga cara komunikasi efektif serta cara dalam menyikapi ABK.

Pertama, orang tua antara ibu dan ayah harus memiliki standar peraturan yang sama. Seperti dalam meminta anak melakukan tahapan kegiatan.

Kedua, memberikan intruksi satu persatu secara perlahan. Contoh, meminta anak untuk makan setelah mandi. Berhenti sampai di situ, setelah anak selesai melakukan barulah diberikan intruksi kembali. Hal ini bertujuan supaya kalimat intruksinya tidak tumpah tindih dan anak dapat mudah memahami dan menurut.

Ketiga, saat berbicara menatap mata anak atau menyetarakan tubuh supaya dapat lebih mudah melakukan kontak mata.

Keempat, Intonasi tetap terjaga. Jika orang tua sedang kelelahan setelah bekerja, menghindari melampiaskan kelelahan pada anak, ada baiknya sebelum pulang untuk menyejukkan hati dan pikiran. Seperti ngopi terlebih dahulu atau melakukan apapun sampai siap menghadapi anak dengan baik. Atau dapat juga dengan cara membuang sampah emosi. Cara ini yaitu, menarik napas dalam-dalam, mengatur napas dengan baik, berpikir optimis, lalu melakukan hal yang disukai seperti bercerita, mencuci baju, atau proses penenangan diri lainnya. Mengatur napas berguna supaya denyut jantung normal dan tenang. Sehingga orang tua dapat menemani anak dengan emosi yang stabil. 

Kelima, mengungkapkan kesukaan dan ketidaksukaan kepada anak dengan cara yang tepat. Berikan kalimat yang jelas, lengkap, dan pelan-pelan. Lengkap di sini yaitu dengan memberikan hubungan sebab akibat dari perbuatan anak. Jika anak masih tidak dapat menerima alasan atau sebab akibat berdasarkan yang disampaikan, maka orang tua dapat memberikan contoh perilaku yang ditunjukkan pada anak. Contoh ini dilakukan sampai anak mampu meniru gerakan dari yang dilakukan orang tua tersebut. 

NAF*

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top
%d blogger menyukai ini: