Strategi mendidik Anak Berkebutuhan Khusus Usia Dini yang Terdapat Masalah Kesehatan Kroni

Kegiatan webinar interaktif dengan tema “Strategi Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus Usia Dini yang Terdapat Masalah Kesehatan Kronis” telah diadakan oleh Yayasan Peduli Kasih ABK pada Hari Minggu, 28 Juni 2020. Acara webinar ini merupakan rangkaian dari #akademidisability yang diinisiasi oleh Yayasan Peduli Kasih ABK untuk berbagai pengetahuan dan pengalaman kepada masyarakat umum. Kegiatan webinar tersebut menghadirkan Dr. Sawitri Retno, MQHC (Ketua Yayasan Peduli Kasih ABK), dr. Dwikoryanto, SpBS (Ketua Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia Wilayah Jawa Timur), Fajarrini Kartikasari, S.Pd (Fasilitator Paud Teras Main, Insan Kamil Surabaya), dan Rossita Tumiwa (Orang Tua ABK). 

Acara webinar ini diikuti oleh sekitar 60 orang peserta yang terdiri dari masyarakat umum dan orang tua anak berkebutuhan khusus. Webinar ini berformat sharing di mana Rossita mengawali sesi webinar dengan menyampaikan pengalamannya dalam menangani anaknya yang memiliki penyakit ensefalokel (tonjolan di tengah kepala). Ibu dari dua anak ini menceritakan proses melahirkan, kontrol hingga pengasuhannya. 

Setelah Rossita menyelesaikan ceritanya, pemateri berikutnya adalah Dr. Sawitri Retno, MQHC (Ketua Yayasan Peduli Kasih ABK), Dia menekankan pentingnya orang tua mengajari anaknya berbagai macam hal karena penelitian membuktikan bahwa otak anak yang diasah lebih tidak kaku dibandingkan otak anak yang tidak diasah. Menurutnya, orang tua juga perlu memahami piramida pembelajaran terhadap anak dan sering kali orang tua berekspektasi anaknya memiliki kecerdasan, namun tidak diberikan stimulus pada sensorinya Pada anak berkebutuhan khusus, sensori berupa penghilangan, pendengaran, penciuman, perasa, sentuhan, keseimbangan, dan kesadaran diri, perlu dirangsang oleh orang tua karena sensori merupakan pondasi awal untuk anak bisa melakukan gerak (motorik), komunikasi, berperilaku, hingga memiliki kecerdasan atau keterampilan. 

Sawitri juga menyebutkan terdapat tiga faktor penentu keberhasilan anak berkebutuhan khusus, yaitu orang tua (persepsi orang tua terhadap anak dan spiritualitas orang tua), anak (derajat berat badan dan faktor kompleksitas pada anak) dan penanganan (respon terhadap kondisi anak dan konsistensi dalam mendampingi anak). Ketiga faktor penentu ini perlu ditunjang dengan asupan gizi yang baik, konsistensi dan keberlanjutan latihan pada anak, dan dukungan lingkungan keluarga. Orang tua juga wajib mempersiapkan penerimaan kondisi anak (acceptance), menikmati proses bersama anak (enjoyment), dan memiliki harapan terhadap anak (hope)

Dr. Dwikoryanto, SpBS (Ketua Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia Wilayah Jawa Timur) menjelaskan tipe-tipe penyakit saraf yang biasanya diderita oleh anak berkebutuhan khusus, seperti Hidrosefalus dan Ensefalokel. Di akhir presentasinya, Dwikoryanto mengutip hadis yang menerangkan, “Sungguh di dalam surga itu ada rumah yang disebut rumah kebahagian, yang tidak dimasuki kecuali orang yang membahagiakan anak-anak kecil”. Hadis ini menunjukkan adanya ganjaran pahala yang diberikan kepada orang tua yang merawat dan membesarkan anaknya dengan sepenuh hati 

Pemateri terakhir adalah Fajarrini Kartikasari, S.Pd (Fasilitator Paud Teras Main, Insan Kamil Surabaya) yang membawakan materi berjudul Menjadi Orang Tua Bahagia dan Berdaya. Menurut Fajarrini, sebelum menjadi orang tua yang bahagia dan berdaya, mereka harus tuntas dengan dirinya sendiri, terus mengasah kompetensi, serta melakukan penguatan diri. Kegiatan pengasuhan anak tentunya melibatkan emosi yang tidak sedikit, oleh karena itu perlu ada pengendalian diri, kerjasama dengan orang yang lebih ahli serta senantiasa mendekatkan diri pada Tuhan. Fajarrini juga mengingatkan orang tua untuk selalu belajar ilmu pengasuhan dan pendidikan anak serta berlatih menjadi pendamping yang responsif dan tepat untuk anak. Terakhir, adanya dukungan keluarga dan masyarakat akan memberikan penguatan diri pada orang tua. 

Materi webinar bisa dilihat di link berikut

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top
%d blogger menyukai ini: