Dalam rangka mengikuti edukasi wisata yang diselenggarakan oleh Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya, adik-adik Yayasan Peduli Kasih Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bersama dengan para orangtua mengunjungi salah satu kantor Pemadam Kebakaran Surabaya yang beralamat di Jalan Pasar Turi No. 24 pada Sabtu, 16 November 2019 lalu. Sesampainya di sana, kami disambut ramah oleh Kak Anita Darma, salah seorang staf Pemadam Kebakaran Surabaya, dan dipersilakan masuk ke dalam ruangan. Sosialisasi diadakan pukul 11.00-12.00 WIB. 

Selama sosialisasi berlangsung, adik-adik diberitahu apa saja yang harus dilakukan ketika “si jago merah” hadir di lingkungannya. Selain itu, adik-adik juga dikenalkan dengan tugas, alat-alat, kendaraan, hingga pakaian atau atribut yang harus digunakan oleh para pemadam kebakaran. “Topi pemadam kebakaran itu beratnya 5 kilogram lho, bajunya 15 kilogram, sedangkan sepatunya sendiri 2 kilogram karena ada besi di depannya, gunanya untuk melindungi kalau ada benda-benda yang jatuh.” jelas Kak Anita. “Makanya, jadi pemadam kebakaran itu harus kuat, olahraga terus.”

Adik-adik terlihat semakin antusias saat Kak Anita mempersilakan untuk mencoba topi dan atribut lainnya. “Wah, iya, berat banget.” ujar Dila, salah satu peserta yang hadir saat itu. 

Sayangnya, ada kebakaran yang terjadi di salah satu wilayah di Surabaya ketika kami sedang berkunjung, sehingga kantor pemadam kebakaran kala itu terlihat lebih sepi dari biasanya. Kami juga tidak bisa melihat rutinitas apa saja yang dilakukan para pemadam saat sedang tidak ada kebakaran. Meski begitu, Kak Anita mempersilakan adik-adik untuk datang kembali esok harinya. “Sebenarnya ada flying fox yang bisa dicoba, namun karena kakak-kakak tim rescue sedang memadamkan api, jadi tidak ada yang bisa mengoperasikannya. Adik-adik boleh datang lagi besok pagi kalau ingin mencoba flying fox gratis di sini, ya!” ucap Kak Anita. 

Sosialisasi ditutup dengan sesi tanya jawab dan diskusi bersama dengan seluruh peserta yang hadir. Beberapa orangtua bertanya seputar pemicu-pemicu kebakaran yang paling sering terjadi. Kak Anita menjelaskan bahwa jumlah kasus kebakaran di Surabaya belakangan ini meningkat karena faktor human error, seperti lupa mematikan kompor atau mencabut kabel setrika. Terakhir, adik-adik berfoto bersama dengan mobil-mobil pemadam kebakaran yang terparkir rapi di depan kantor. Seru banget!

(ntr/ira)

%d blogger menyukai ini: