Sesuai dengan artinya, verbal behavior (VB) yang akan dibahas pada artikel ini sangat berkaitan dengan bahasa (verbal) dan perilaku. Bahasa adalah suatu alat komunikasi yang bisa ditampilkan secara beragam melalui bicara, tulisan, dan gerak tubuh. Misalnya, saat anak ditanya, “Mau makan?” dan dia menggeleng, berarti dia berbahasa melalui gerak tubuhnya. Jika anak menjawab “iya”, maka ia berbahasa secara verbal. Kita menggunakan bahasa untuk mengekspresikan diri dan menjalin interaksi sosial. Apa jadinya jika seseorang tidak bisa berbahasa? Orang yang tidak bisa berbahasa berarti tidak bisa berkomunikasi karena dia tidak bisa menyampaikan pemikirannya serta kesulitan membangun hubungan dengan orang lain. Perlu disadari bahwa kemampuan berbahasa tidak tiba-tiba muncul dalam diri seseorang. Dalam psikologi perkembangan, dijelaskan bahwa anak secara perlahan belajar komunikasi dari lingkungannya, termasuk dari orang tuanya yang sering mengajaknya bicara meski anaknya saat itu belum paham bahasa.

Jika kemampuan berbahasa tidak berkembang dengan baik, maka banyak aktivitas anak yang akan terhambat. Kondisi dimana kemampuan bahasa terbentuk secara terlambat disebut language delays (keterlambatan bahasa). Kondisi ini disebabkan adanya gangguan saraf otak, berbeda dengan tunawicara yang disebabkan gangguan organ wicara (masalah pada pita suara, tenggorokan, dan lainnya). Pada dasarnya, anak dengan language delays bisa berbahasa secara verbal, akan tetapi ia memproses bahasa lebih lambat atau cenderung tidak termotivasi untuk verbal. Kasus ini umum terjadi pada anak-anak dengan spektrum autisme, mereka memiliki keinginan yang rendah pada interaksi sosial sehingga mereka cenderung jarang berbahasa verbal. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan bagaimana cara kita berbahasa. Semua cara berbahasa dapat dilakukan bergantian sesuai situasi. Akan tetapi dalam hidup bermasyarakat, seseorang dituntut untuk bisa berbahasa secara verbal, kecuali memang ada gangguan pada organ wicaranya. Apabila anak ‘terlihat seperti pada umumnya’, maka anak seharusnya bisa berbicara. Anak dengan spektrum autisme yang tidak tertarik verbal akan terlihat sebagai ‘masalah’ di kehidupan bermasyarakatnya.

Berkaitan dengan kemampuan berbahasa, program terapi VB dirancang untuk anak-anak dengan keterlambatan bahasa baik yang memiliki disabilitas atau tidak. Program VB menggunakan prinsip ABA (applied behavior analysis) atau prinsip perilaku, yaitu suatu pendekatan psikologi yang fokus pada perilaku dan diterapkan berdasarkan penelitian ilmiah. Karena perilaku merupakan aktivitas seseorang yang dapat dilihat dan dapat diukur, program ini fokus pada apa yang ditampilkan oleh anak. Perasaan atau pemikiran yang tidak ditampilkan oleh anak mendapat perhatian kecil pada program ini. Program VB menekankan pada motivasi dan kemampuan meminta (manding) dan menekankan pada bahasa yang fungsional (bisa langsung digunakan anak sehari-hari) serta jumlah kata yang dikuasai anak tapi tetap disesuaikan dengan fungsinya pada kehidupan sehari-hari anak.

Kemampuan bahasa terbagi menjadi dua jenis, yaitu bahasa ekspresif dan bahasa reseptif. Bahasa ekspresif digunakan saat seseorang ingin menyampaikan keinginannya, seperti mengatakan, “aku ingin permen”. Sementara itu, bahasa reseptif digunakan untuk merespon keinginan orang lain, seperti anak yang mengambil permen karena diminta orang tuanya. Dalam program VB, anak akan belajar dua jenis kemampuan bahasa ini secara merata. Anak tidak akan lanjut ke tingkat kesulitan yang lebih tinggi jika kemampuan bahasanya belum seimbang. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran program VB berfokus pada kemampuan manding.

Manding, berasal dari kata command atau demand yang artinya memerintah atau meminta. Dalam program ini, anak akan dilatih untuk meminta benda atau aktivitas tertentu.

Contoh:

Orang tua                   : Mau apa?

Anak                            : (diam)

Orang tua                   : Mau apa? Permen (menunjukkan permen pada anak)

Orang tua                   : Mau apa?

Anak                            : Permen

Orang tua                   : (memberikan permen)

Walaupun anak belum bisa mengatakan permen dengan benar atau sekedar mengucapkan ‘mmen’, hal ini bisa dianggap mengucapkan permen. Poin penting pada kemampuan ini adalah anak dapat meminta benda atau aktivitas tertentu. Untuk melatih kemampuan ini, orang tua perlu memancing motivasi anak dengan benda atau aktivitas yang sangat disukai. Semakin anak menyukai benda atau aktivitas tersebut, semakin tinggi keinginannya untuk meminta. Dengan begitu, anak yang awalnya tidak terbiasa verbal terdorong untuk berbicara. Selain kemampuan manding, anak juga akan dilatih kemampuan bahasa yang lain.

Saat orang tua memutuskan untuk memberikan terapi VB, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni:

1. Melakukan asesmen awal untuk mengetahui tingkat kemampuan anak. Asesmen bisa dilakukan oleh siapa saja asal memahami prinsip perilaku dan bahasa. Apabila tidak yakin untuk melakukan asesmen sendiri, orang tua bisa meminta bantuan kepada tenaga profesional.
2. Merancang kurikulum VB sesuai kebutuhan anak, termasuk apabila menggunakan jasa tenaga profesional.
3. Melaksanakan program VB berdasarkan rancangan yang sudah dibuat. Apabila orang tua ingin melaksanakan terapi sendiri untuk anak di rumah, perlu mempesiapkan beberapa hal sebelum pelaksanaan program.
4. Evaluasi rutin untuk memantau perkembangan bahasa anak.

Walaupun tujuan utama program VB untuk melatih anak memahami fungsi bahasa dan termotivasi untuk berbahasa verbal, selama proses program VB anak juga belajar tentang sikap belajar dan kedisiplinan. Dengan kata lain, melalui program VB ini anak tidak hanya belajar berbahasa, melainkan juga membentuk sikap sembari mengurangi kemunculan perilaku yang bermasalah seperti mengamuk, memukul kepala, atau melempar barang.

***

Penulis: Putri Bayu G. M. P

Editor: Alwiyah Maulidiyah

 

Sumber:

Gambar feature diambil di sini

Categories: Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: