Siapa bilang pendidikan seksual hanya terkait dengan perubahan fisik anak saat remaja? Bincang Santai bersama dr. Berliana Hamidah pada tanggal 6 Juli lalu membahas banyak hal tentang pendidikan seksual, terutama bagi keluarga dengan Anak berkebutuhan Khusus (ABK).

Pendidikan seksual memang berkait dengan kedewasaan dan perubahan fisik anak. Akan tetapi, bukan hanya tentang itu loh. Pendidikan seksual merupakan pendidikan akan fisik anak dan kaitannya dengan kesehatan, peran sosial, agama, dan norma sang anak. Baik ABK maupun non-ABK, pendidikan seksual adalah hal yang penting untuk diajarkan oleh orang tua sedini mungkin, dengan bahasa yang sederhana sesuai dengan kemampuan anak untuk memahami. Di sinilah peran orang tua sangat penting, karena bukan hanya mengajarkan teori-teori pendidikan seksual, orang tua harus dapat memberikan contoh melalui kegiatan anak sehari-hari di rumah.

Lantas, kapan seharusnya pendidikan seksual dimulai? Dan bagaimana cara memulainya?

Pendidikan seksual dapat dimulai sejak anak masih berusia batita. Hal-hal mendasar yang dapat dikenalkan pada anak usia tersebut termasuk apa itu laki-laki dan perempuan serta bagaimana membedakannya. Hal ini penting untuk membantu anak mengidentifikasi identitas seksualnya secara fisik. Setelah itu, anak mulai dapat diperkenalkan pada bagian-bagian tubuh yang harus ditutup. Dalam islam, bagian tubuh ini disebut dengan aurat dan merupakan bagian dari pendidikan seksual. Mengajarkan pada anak untuk selalu berpakaian saat keluar dari kamar mandi, tidak telanjang di depan umum, dan tidak mandi bersama merupakan hal-hal dasar yang harus diajarkan agar anak dapat belajar menutup aurat untuk menghormati tubuhnya dan tubuh orang lain. Oleh karena itu, bunda dan yanda sebagai contoh di rumah, jangan suka ganti baju sembarangan di depan sang anak ya!

Adab tidur juga penting untuk diajarkan sedini mungkin. Anak harus dilatih untuk tidur sendiri sebagai bagian dari menjaga privasi sang anak. Menjaga kebersihan organ reproduksi juga hal mutlak yang harus diajarkan pada si kecil untuk menjaga kesehatan. Bagaimana berkhitan harus dilakukan, bagaimana cara membasuh alat kelamin dengan benar sesudah buang air besar maupun kecil, hingga bagaimana mengganti pakaian dalam agar selalu bersih.

Yang paling penting, orang tua juga memperkenalkan jenis-jenis pelecehan seksual sedini mungkin pada anak. Pertahanan-pertahanan diri yang dibutuhkan perlu diperkenalkan agar anak dapat melindungi dirinya sendiri dari kejahatan seksual. Hal ini dapat dimulai dengan memperkenalkan pada anak, bagian-bagain tubuh mana saja yang boleh dan tidak boleh dilihat oleh orang lain serta siapa yang boleh menyentuhnya. Mengajarkan pada anak untuk berteriak dan meminta tolong bila ada yang menyentuh bagian-bagian tubuh anak juga merupakan salah satu bentuk pertahanan diri.

Jadi, sebelum terlambat, mari mulai ajarkan pendidikan seksual pada anak kita!

Categories: Kegiatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: