Yayasan Peduli Kasih Anak Berkebutuhan Khusus bekerja sama dengan Radio Republik Indonesia dalam acara Pilar Keluarga untuk memberikan informasi-informasi terkait parenting bagi pendengar radio ABK dan non-ABK. Pada siaran hari Selasa tanggal 24 April 2018 Pilar Keluarga membahas tentang peran penting ayah dalam pengasuhan anak bersama Bapak Agung Kurniawan, M.Psi, selaku psikolog; ibu Dr. Sawitri Retno Hadiati, dr., MQHC selaku ketua Yayasan Peduli Kasih ABK; dan Roha selaku anak yang mengalami brokenhome.

Siaran kali ini membahas bagaimana budaya berperan dalam pembagian peran antar-orang tua. Budaya timur yang ada di Indonesia menjadi salah satu kontribusi bahwa masih ada ketimpangan dalam pembagian peran orang tua, antara ibu dan ayah. Selama ini, ayah digambarkan sebagai sosok orang tua yang bekerja, sedangkan ibu berperan di rumah dan mengurus segala kebutuhan rumah tangga maupun anak. Akibatnya, apabila terjadi kesalahan pada anak—terlebih pada Anak Berkebutuhan Khusus—ibu cenderung menjadi pihak yang disalahkan sehingga seorang ibu dapat memiliki tingkat stress yang cukup tinggi.

Lantas, apakah ayah dan ibu benar-benar harus memiliki peran yang sama persis dalam mengasuh anak? Studi psikologi dan biologi menyebutkan bahwa memang terdapat perbedaan antara ayah dan ibu, termasuk perbedaan hormon. Hormon esterogen yang mendominasi perempuan membuat ibu menjadi lebih lembut dan penuh kasih sayang karena fokus pada relasi, detail, dan estetika. Sementara itu, hormon testosteron yang dimiliki ayah membuat ayah lebih menitikberatkan pada kompetensi dan kekuatan. Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa ibu dan ayah memiliki perannya masing-masing yang berguna untuk anak, baik anak perempuan maupun anak laki-laki.

Anak dengan ayah yang terlibat dalam pengasuhannya akan lebih percaya diri, disiplin, dan lebih bisa berkata ‘tidak’. Namun, kurang adanya peran ayah yang dirasakan anak akan berdampak buruk bagi anak. Beberapa penelitian mengenai fatherless home (rumah tanpa ayah) di Amerika menunjukkan bahwa remaja yang memiliki masalah tingkah laku, pelaku pemerkosaan, hingga perundungan kurang merasakan peran ayah sehingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan tersebut. Selain itu, anak juga merasa sedih, terutama bila melihat teman-temannya memiliki orang tua lengkap.

Lalu, apa yang dapat dilakukan oleh ibu sebagai salah satu orang tua? Walau peran ayah sendiri tidak dapat digantikan, ibu perlu berperan ganda pada anaknya yang kurang merasakan peran sang ayah. Entah karena tidak lagi memiliki ayah ataupun karena ayah yang kurang berperan dalam pengasuhan. Ibu dapat mengajarkan anak laki-laki menjadi lebih lembut dan anak perempuan untuk lebih kuat dan berani. Ibu juga perlu bantuan keluarga untuk menjadi role model bagi anak, seperti peran paman yang bisa mengajarkan bagaimana peran ayah seharusnya sehingga anak tetap merasakan peran ayah. Tidak hanya itu, guru juga dapat berperan penting dalam modelling pada anak.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa peran ayah dan ibu sama-sama penting bagi anak sehingga ayah dan ibu perlu bekerja sama dalam mengasuh anak. Oleh karena itu, sebelum menikah perlu adanya edukasi pada pasangan sehingga memahami dan mengerti masing-masing peran ayah dan ibu. Selain itu, edukasi tentang parenting juga penting untuk orang tua yang sudah memiliki anak. Apalagi masih banyak orang tua yang meniru model peran orang tua serta pola asuh dari zaman-zaman kerajaan karena belum memiliki model orang tua yang sesuai. Untuk mendukungan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, saat ini pemerintah Indonesia sedang menggalakkan program ayah boleh mengambil cuti apabila istri sedang hamil dan akan melahirkan. Hal ini juga bisa menjadi salah satu gerbang awal keterlibatan ayah dalam keluarga.

Categories: Kegiatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: