Tidak ada yang salah pada anak-anak, sekalipun pada kekhususannya. Justru ketika kita berniat memuliakan mereka dengan keterbatasanya, mereka memuliakan kita dengan keistimewaannya. Karena pada akhirnya, kitalah yang belajar dari mereka. Seperti yang dikatakan oleh Angela Schwindt, “kita mengajari anak tentang kehidupan, dan mereka mengajarkan kita apa itu kehidupan.”

Cerita ini saya tulis seiring dengan perubahan pandangan hidup yang saya rasakan semenjak satu tahun lalu menemukan lingkungan baru. Berinteraksi dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) menyadarkan saya bahwa mereka luar biasa dengan sendirinya. Pada titik ini saya menyadari bahwa kitalah yang membutuhkan mereka—karena begitu banyak pelajaran kehidupan yang dapat diambil—untuk mengubah diri kita.

Saya menyadari semakin saya berinteraksi dengan mereka, perlahan saya menghargai betapa luar biasanya setiap keunikan yang saya miliki. Mereka dengan keunikannya, semangat dan keceriaan yang tiada henti justru menambah kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya. Saya kagum dan saya bersyukur telah bertemu mereka. Ternyata sekadar mengagumi pun butuh perjuangan besar, apalagi untuk menumbuhkan niat sebelum bertindak. Karena seringkali ketika membicarakan ABK, hal pertama yang terbesit adalah tantangannya terlampau kompleks, dan inilah membuat kita secara teratur menghilangkan peran.

Melihat laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013 menunjukkan lebih dari dua juta anak Indonesia adalah ABK dengan tren per tahun yang selalu mengalami peningkatan. Tentunya, ini adalah jumlah yang besar, dan pasti menimbulkan masalah-masalah yang beragam. Adanya ketimpangan dalam pendidikan, kesempatan berpartisipasi dalam masyarakat, bekerja, hak mendapat fasilitas pelayanan umum, kesehatan, dan dukungan moral bagi ABK, serta munculnya stigma dari masyarakat, merupakan beberapa dari banyak masalah yang kini dialami ABK.

Saya bermaksud membawa anda untuk membahas permasalahan di atas. Namun bukan pada apa ABK itu, atau membahas lebih jauh masalah yang terjadi pada mereka. Saya akan menceritakan hubungan masalah tersebut dengan peran anda.

Semua berawal dari pemikiran sederhana yang kami temukan di yayasan. Setelah melalui berbagai cara, berganti-ganti program dan pengalaman yang memberikan pembelajaran selama lima tahun, akhirnya kami menemukan jawaban atas masalah kompleks ini adalah dengan melibatkan peran semua pihak. Anda pastinya sudah familiar dengan cara ini, karena keterlibatan semua pihak adalah stategi andalan banyak program pemberdayaan, baik itu oleh pemerintah, yayasan, gerakan-gerakan, hingga komunitas. Keterlibatan semua pihak adalah solusi yang tidak saya ragukan. Selaras dengan tujuan Yayasan Peduli Kasih ABK untuk memuliakan ABK dengan peran orang tua dan dukungan aktif dari masyarakat. Namun, seringkali kita bias dalam mengartikan keterlibatan semua pihak adalah pada mereka dan kita tidak termasuk di dalamnya. Kita lupa bahwa kita bukan pihak luar, faktanya, tidak ada pihak luar. Karena itu saya tegaskan bahwa semua pihak atau kita itu termasuk saya, anda, dan mereka.

Memang tidak salah, bahwa menyebut orang tua ABK yang seharusnya mempunyai peran terbesar dalam mendidik, menjaga, membuat anaknya percaya diri, dan hidup bahagia sama seperti anak-anak lainnya. Namun tidak benar, jika saya mengatakan bahwa peran anda yang selain orang tua ABK hanyalah sebagai pengamat.

Kita adalah masyarakat yang masing-masing mempunyai peran untuk memuliakan ABK.

Saya percaya, siapapun anda, memiliki peran penting. Ada hubungan saling bergantung antara anda sebagai individu yang mempunyai peran baik dalam keluarga, organisasi, pekerjaan, komunitas, maupun dalam masyarakat luas. Sekecil apapun, entah dengan sikap ramah dan wajar terhadap ABK, memberi rasa aman dari cemoohan, mengajak bercengkrama, sampai memperjuangkan advokasi untuk hak-hak mereka yang memang harus dijunjung tinggi. Anda selalu mempunyai peran untuk anak-anak istimewa ini.

Oleh karena itu, menggambarkan betapa luasnya lingkup peran anda, bagaimana dampaknya terlihat dari hal kecil sampai menimbulkan hal besar, dari waktu yang sekarang sampai di masa depan, kami menyebutnya struktural-kultural. Artinya, peran anda berdampak pada seluruh struktur kehidupan masyarakat, dan secara berkelanjutan membentuk kultur yang kondusif bagi ABK.

Melihat tantangan yang kompleks pada ABK telah kita sadari, bahwa solusi paling efektif adalah pelibatan semua pihak. Apapun peran kita menjadi penting. Seberapa kecil dan sempit dampaknya, saya percaya bahwa yang membuat peran itu penting adalah kebiasaannya. Dengan kata lain, memuliakan ABK dengan menggerakkan kita, berarti terus-menerus membiasakan tindakan (entah itu kecil ataupun besar) yang menggerakkan hati menuju empati, pemikiran terbuka, ramah, toleran dan optimis, serta humanis.

Karena itu yang membuat kita menjadi manusia mulia.

***

 

Penulis: Muhammad Muqorrobin Ist


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: