Menurut Francis D.C King, desain interior adalah sebuah perencanaan tata letak dan perancangan ruang di dalam bangunan. Desain interior memenuhi kebutuhan dasar kita akan naungan dan perlindungan, mempengaruhi bentuk aktivitas, memenuhi aspirasi, dan mengekspresikan gagasan dari tindakan. Desain interior juga mempengaruhi pandangan, suasana hati serta kepribadian kita. Pengguna ruang juga menjadi pertimbangan penting karena karakteristik, kebutuhan, dan kebiasaan setiap pengguna ruang akan berbeda. Cukup banyak desain interior yang sekadar menciptakan ruang yang indah dan apik tanpa adanya pertimbangan kondisi fisik maupun psikologi pengguna. Hal ini dapat dikatakan tidak tepat karena desain interior yang baik bukan hanya tentang membuat sebuah ruang menjadi indah atau bernilai estetik tapi juga mempertimbangkan fungsi dan pengguna ruang. Desain interior tidak hanya bertujuan menciptakan ruang yang nyaman, namun juga aman dan mendukung aktivitas pengguna. Fungsi desain ruang ini dapat diwujudkan dengan teknik desai yang tepat untuk setiap kegunaan dan keunikan pengguna. Dalam perancangan sebuah interior, kondisi dari pengguna, baik mental maupun fisik harus menjadi pertimbangan utama karena ruangan yang didesain dengan baik akan membantu mempermudah aktivitas pengguna.

Prinsip bahwa desain interior dapat digunakan untuk membantu aktivitas pengguna juga dapat digunakan untuk mendukung perkembangan dan keamanan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Orang tua dan pengasuh harus menjadi pihak yang lebih kreatif dalam mendesain ruang yang dapat mendukung aktivitas tumbuh kembang ABK, tentunya disesuaikan dengan kondisi dari anak. Anak dengan keterbatasan pengelihatan dapat dibantu dengan memberikan tekstur yang berbeda pada lantai, atau memberi tanda yang mencolok pada ruang agar untuk anak dengan keterbatasan pendengaran. Perlu diperhatikan pula bahwa anak masih dalam masa pertumbuhan sehingga memerlukan desain ruangan yang fleksibel agar dapat mendukung tumbuh kembang dan kemandirian anak.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat ruang yang sesuai dengan anak berkebutuhan khusus ialah :

  • Memahami diagnosis anak. Dengan memahami diagnosis anak dan mempelajari tentang diagnosis tersebut, orang tua akan lebih mudah membuat daftar keterbatasan dan kebutuhan untuk mendukung anak dalam beraktivitas. Daftar ini akan mempermudah orang tua untuk mulai membuat konsep desain.
  • Membuat tata letak yang sesuai dengan kondisi anak. Contohnya, anak dengan Atention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD) dapat dibantu dengan desain ruang yang lebih luas untuk mengakomodasi ruang gerak anak.
  • Memilih warna atau corak pada dinding sesuai kondisi anak. Pada beberapa kondisi, penggunaan corak atau warna yang berlebihan akan membuat anak merasa tak nyaman. Desain dinding dapat disesuaikan pula dengan kondisi anak.
  • Memahami tentang bahan finalisasi yang aman.
  • Menentukan bentuk dan bahan perabotan yang cocok untuk anak. Hal ini penting untuk diperhatikan pula, mengingan perabotan juga penting dalam menunjang aktivitas anak, Sehingga pemilihan furniture yang aman dan sesuai kondisi anak akan membatu aktivitas anak.
  • Desain ruang dibuat lebih fleksibel terhadap perubahan. Seiring dengan perkembangan kondisi anak, desain yang ada juga perlu berkembang. Dengan memikirkan kemungkinan perubahan yang ada, maka orangtua dapat mengatisipasi perubahan desain ruang sehingga dapat memilih desain yang lebih fleksibel terhadap perkembangan.

 

Desain yang sesuai dengan kondisi Anak Berkebutuhan Khusus diharapkan akan mempermudah anak dalam beraktivitas serta mendukung tumbuh kembang anak. Desain yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan ini dapat dijadikan sarana belajar sekaligus memberikan kenyamanan bagi anak. Untuk itu, dibutuhkan kreativitas dan sensitivitas orang tua untuk membantu mewujudkan desain interior yang baik bagi anak.

***

 

Penulis : Riza Aindi
Riza Aindi merupakan mahasiswi desain interior Universitas Petra. Keinginanna untuk selalu belajar dan kecintaannya pada anak-anak membuatnya betah menjadi relawan di Yayasan Peduli Kasih Anak Berkebutuhan Khusus

Editor    : Habiibati Bestari

 

Sumber:

Chamidah, A. N. (t.thn.). Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus. Pelatihan Layanan Komprehensif bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusi, 1-6.

Listyani, M. (2016). Autism School di Batang dengan Prinsip Universal Design. Dalam Skripsi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Mahardhika, R. V., & Budiono. (2012). Desain Interior Pusat Rehabilitasi Autisme dengan Konsep “Season in Wonderland Revolution Clinic” dan “Free Running Building” sebagai Sarana Terapi Interior Partisipatif. JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 1, 1-6.

 

Gambar feature diambil di sini


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: