Tahukah kamu bahwa setiap anak memiliki kecerdasan yang unik yang mungkin berbeda dengan anak lainnya? Misalnya, seorang anak pandai matematika, tetapi dia tak pandai dalam bermain musik, sedangkan anak lainnya yang mahir memainkan musik tidak begitu menyukai matematika. Hal tersebut bukanlah sebuah perbedaan yang harus diperdebatkan karena setiap anak memiliki delapan kecerdasan atau biasa disebut kecerdasan majemuk. Dari berbagai kecerdasan tersebut, setiap anak memiliki kecerdasan yang mendominasi dalam dirinya yang dapat menjadi bekal untuk masa depannya sehingga setiap anak tidak bisa disamakan satu sama lain.

Kecerdasan majemuk terdiri atas kecerdasan linguistik, logika matematika, visual spasial, kinestetik, music, hubungan interpersonal, hubungan intrapersonal, dan naturalis. Seperti yang disebutkan sebelumnya, setiap anak memiliki kecerdasan spesifik dari kecerdasan majemuk. Kecerdasan spesifik ini dapat berkembang hingga optimal dengan berbagai cara. Untuk mengetahui kecerdasan yang dimiliki anak, orang tua dapat mengamati anak, mulai dari kesukaannya hingga kemampuannya dalam melakukan sesuatu. Setelah mengetahuinya, orang tua dapat mengembangkan kecerdasan spesifik mereka.

Berikut merupakan penjelasan masing-masing kecerdasan majemuk dan cara mengoptimalkan kecerdasan spesifik yang dimiliki anak:

Kecerdasan Linguistik. Anak yang memiliki kecerdasan linguistik memiliki kemampuan menggunakan dan mengolah kata-kata dengan baik secara lisan dan tertulis. Selain itu, mereka akan berbahasa dengan lancar, baik, dan lengkap, serta mereka mudah menjelaskan, mengajarkan, dan menceritakan pemikirannya pada orang lain. Contoh profesi yang menggunakan kecerdasan linguistik adalah pencipta puisi, editor, jurnalis, sastrawan, dan orator. Kecerdasan linguistik dapat dikembangkan dengan berbagai cara, seperti membaca berbagai buku, majalah, membiasakan diri untuk menulis sesuatu, melakukan permainan kata, merekam pembicaraan sendiri dan mendengarkannya.

Kecerdasan Logika Matematika. Kecerdasan ini berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika secara efektif. Anak yang memiliki kemampuan ini sangat mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi dalam pemikiran serta cara mereka bekerja. Selain itu, mereka menyukai hal-hal yang berhubungan dengan angka, berhitung, menyukai eksperimen dan pengembangan ilmu pengetahuan baru, dan senang menganalisis yang dikaitkan dengan logika. Contoh profesi yang menggunakan kecerdasan logika matematika adalah programmer, logikus. Kecerdasan ini dapat dikembangkan dengan berbagai cara, yakni dengan menghadapi soal matematika dalam kehidupan sehari-hari, menghitung harta yang wajib dizakatkan perbulan, mengunjungi laboratorium sains, dan mempelajari bahasa komputer.

Kecerdasan Visual Spasial. Kecerdasan visual spasial merupakan kemampuan untuk menangkap dunia ruang visual secara tepat dan kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat serta mempunyai daya imajinasi secara tepat sehingga dapat menggambarkan kedudukan ruang dengan baik. Selain itu, anak dengan kecerdasan spasial cenderung menyukai bacaan yang berwarna dan senang merekam suatu peristiwa dengan video kamera. Contoh profesi yang menggunakan kecerdasan ini adalah pemburu, arsitek, dekorator. Kecerdasan ini dapat dikembangkan dengan berbagai cara, seperti membuat puzzle, melukis, menggambar, mewarnai, mendekorasi ruangan, berkreasi dengan fotografi, dan membuat lukisan foto dan diagram untuk presentasi.

Kecerdasan Kinestetik. Anak yang memiliki kecerdasan ini  mudah untuk mengekspresikan perasaan dan pemikiran mereka dengan gerakan tubuh. Mereka yang memiliki kecerdasan ini cenderung lebih mudah mengingat sesuatu dengan melakukan gerakan daripada melihat ataupun mendengar. Selain itu, mereka menyukai aktivitas olahraga dan memiliki koordinasi dan fleksibilitas tubuh yang begitu besar. Contoh profesi yang menggunakan kecerdasan ini adalah aktor, atlet, penari, polisi, dan tentara. Kecerdasan ini dapat dikembangkan dengan berbagai cara, yaitu dengan mengikuti klub olahraga yang disukai, belajar seni beladiri, memijat orang lain atau diri sendiri, mengikuti pelajaran akting atau pantonim, dan bermain permainan tradisional, seperti bentengan, galasin, dan enggrang.

Kecerdasan Musik. Kecerdasan musik merupakan kemampuan yang dimiliki oleh anak dalam bidang musik baik dengan cara mengembangkan, mengekspresikan, dan menikmati bentuk-bentuk musik dan suara, peka terhadap nada, ritme, melodi, dan intonasi. Selain itu, mereka juga memiliki kemampuan memainkan alat musik, bernyanyi, menciptakan lagu, suka bersenandung dengan menetukan jari saat mendengar musik. Contoh profesi dalam bidang ini, yaitu penyayi, musisi, komposer, dirigen, pencipta lagu, pemain musik, dan pembuat alat musik. Kecerdasan ini dapat dikembangkan dengan beberapa cara, yaitu dengan sering bersenandung dan bermain musik, bergabung dengan paduan suara di sekolah, meluangkan waktu untuk mendengarkan musik, dan mengarang lagu ciptaan sendiri.

Kecerdasan Interpersonal. Kecerdasan interpersonal merupakan kemampuan memahami dan peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak, dan temperamen orang lain. Anak yang memiliki kecerdasan ini dapat menjalin relasi dan komunikasi dengan berbagai orang dengan baik, pandai berkomunikasi bahkan memanipulasi, suka pekerjaan yang berhubungan dengan orang lain atau berkelompok, pandai bersimpati, dan menyenangi permainan yang melibatkan banyak orang. Contoh profesi dalam bidang ini, yaitu konselor, psikolog, guru, politikus, dan motivator. Kecerdasan ini dapat kita kembangkan dengan beberapa cara, yaitu dengan mengambil peran sebagai pemimpin, meluangkan waktu untuk menjadi mengobrol dan menjadi pendengar cerita teman-temannya, hadir dalam acara reuni sekolah atau keluarga, memulai percakapan dengan orang asing, belajar memahami situasi sosial dan etika social, dan mengembangkan sikap empati.

Kecerdasan Intrapersonal. Kecerdasan intrapersonal merupakan kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak secara adaptif berdasarkan pengalaman diri, serta mampu berefleksi dan keseimbangan diri. Anak yang memiliki kecerdasan ini dapat mengatur perasaan dan emosinya sehingga kelihatan tetap tenang, dapat memahami diri sendiri lebih mendalam, dan suka bekerja sendiri dan cenderung pendiam. Contoh profesi dengan kecerdasan ini, yaitu pemuka agama, konsultan, penasehat, dan filsuf. Cara mengembangkan kecerdasan intrapersonal, yaitu dengan menghayati setiap bacaan doa, melakukan refleksi diri, mencari keunikan diri yang berbeda dengan orang lain, menuliskan mimpi jangka pendek dan panjang, dan mencatat gagasan, cerita, dan perasaan yang dimiliki.

Kecerdasan Naturalis. Kecerdasan ini merupakan kemampuan mengenal dan memahami flora dan fauna dengan baik. Anak yang memiliki kecerdasan ini akan menikmati alam, senang memelihara tanaman dan binatang, memiliki perhatian yang besar dan sangat antusias terhadap konservatis alam dan observasi lingkungan, dan menyukai kegiatan yang berhubungan dengan alam. Profesi yang menggunakan kecerdasan ini, yaitu ilmuwan, ahli biologi, dokter hewan, dan aktivis peduli binatang dan lingkungan. Ada beberapa cara untuk mengembangkan kecerdasan ini, yakni memelihara binatang, menanam bunga atau berbagai jenis tanaman, mengikuti kelompok pecinta alam, memancing, dan mengikuti kerja bakti di lingkungan sekitar.

Dengan memahami kecerdasan majemuk, kita tidak perlu lagi membandingkan anak dengan anak lainnya karena setiap anak memiliki kecerdasan spesifik yang berbeda-beda. Selain itu, orang tua juga tidak perlu lagi memaksakan anak untuk mahir di bidang tidak disukai anak dan yang bukan kecerdasan spesifiknya. Orang tua dapat fokus menggali dan mengembangkan kecerdasan spesifik anak. Yuk mulai kenali dan pahami anak dengan mengamati kesukaan dan kemampuannya dalam melakukan sesuatu.

***

Penulis: Mia Rahmatun Nisa,

Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya yang berasal dari Jakarta

Editor: Alwiyah Maulidiyah

 

Referensi:

Thohir, M. (2014). Pemahaman Individu. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press.

Gambar feature diambil dari sini

%d blogger menyukai ini: